Posts

Showing posts from 2026

HAMLET/Boris Pasternak

    Keheningan huru-hara. Aku berdiri di atas panggung Menghadap sebuah tiang pintu, menghitung samar Dari tilas akan suatu gema jauh terdengar Apakah batang usiaku yang belum usai mungkin masih terbawa.   Kelam malam mengguyur dari cermin-cermin opera ini Yang dalam ribuan rentetannya tatapan mereka padaku: Namun Abba, Ayah, bila menjadi keinginanmu, Angkatlah piala ini dalam ampunanmu.   Maksudmu menjaga cintaku dengan teguh, Peran ini kautata aku puas memainkannya; Meski kini sebuah sandiwara lain memulai adegan: Merenggangkanku dari jejakan langkahmu suatu kali ini.   Dan sekalipun urutan babak direncana, Akhir jalannya menuju dan tersibak. Sendirian. Sekaranglah waktunya bagi Farisi. [1] Tinggal tidaklah seperti melangkah melintasi sehampar ladang.       Dari terjemahan bahasa Inggris oleh Henry Kamen dalam judul “Hamlet”. Termaktub dalam In the Interlude: Poems 1945 – 1960 (London: Oxford Unive...

JANUARI UTAMA/Octavio Paz

    Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.     Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.   ...