Posts

MALAIKAT, MANUSIA, DAN HARAPAN (I)/Laszlo Krasznahorkai

Yang terhormat, Bapak dan Ibu sekalian! Pada penerimaan Hadiah Nobel Kesusastraan 2025, saya semula berharap membagi pemikiran-pemikiran saya pada kalian mengenai harapan, tetapi selagi bekal harapan saya secara pasti telah berakhir, sekarang saya akan berbicara perihal malaikat. I. Saya melangkah hilir mudik dan sedang berpikir tentang malaikat, kini pun sedang berjalan hilir mudik, jangan percayai mata kalian—mungkin tampak bagi kalian saya sedang berdiri di sini dan berbicara pada mikrofon, tapi tidak, pada kenyataannya saya sedang berkeliling, dari satu sudut ke sudut lainnya, dan kembali lagi dari tempat saya memulai, dan seterusnya dan sebagainya, berkeliling, dan ya, saya sedang berpikir tentang malaikat; para malaikat, dan mendadak bisa menguak inilah jenis baru malaikat, inilah malaikat yang tanpa sayap-sayap, dan jadi, sebagai misal, tidak terdapat kebutuhan untuk merenungkan tentang bagaimana, jika sepasang sayap itu dicuatkan dari punggungnya para malaikat ini, sungg...

POHON MALAM

Sajak Rudiana Ade Ginanjar Ah, malam sebatang pohon tinggi. Biarkan segenap cahaya merintis             jalan ke peristirahatan.   Ke sebalik batang, ke kelam warna.   Wajah-wajah Juli seakan nyanyian             memendar nada; di awal musim kelabu, sungai-sungai hening matahari dan bukit sunyi.   Segala melihat dirinya, sendiri—sebuah bentangan cermin.   Bagai ujung jalan yang padanya menara penjaga. Pintu-pintu menujumu telah lama             melekat dalam dingin, dan paras pagi menjadi legenda.   Kita terbiasa bertemu ke dalam lagu memburu:             tahun-tahun gugur semisal seragam abu masa remaja, riuh jadi pasir pantai.   Di paruh tahun, apa saja adalah puncak dari bayang hujan terakhir.   Ngeri tidak berujung, gamang tak terhi...

SORE DAN HUJANNYA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar   Tahun-tahun berlalu, masih dalam bayang. Inilah mimpi ketujuh, cahaya berbinar dan lautan bernyanyi. Hanya desir, tiupan angin; desa tertidur oleh warna hatta.   Ke dalam cahaya berbinar masa laluku.   Aku telah nyanyikan kidung, dibawa malam. Telah tuntas misteri, tahun-tahun melepas cadar hujan dan selimut awan.   Betapa kupanggil: cinta jauh. Cuaca kusam mentari,               hanya kelanjutan cerita kelak. Murni, sebentang jalan mendaratkan tuju.   2025 

HAMLET/Boris Pasternak

    Keheningan huru-hara. Aku berdiri di atas panggung Menghadap sebuah tiang pintu, menghitung samar Dari tilas akan suatu gema jauh terdengar Apakah batang usiaku yang belum usai mungkin masih terbawa.   Kelam malam mengguyur dari cermin-cermin opera ini Yang dalam ribuan rentetannya tatapan mereka padaku: Namun Abba, Ayah, bila menjadi keinginanmu, Angkatlah piala ini dalam ampunanmu.   Maksudmu menjaga cintaku dengan teguh, Peran ini kautata aku puas memainkannya; Meski kini sebuah sandiwara lain memulai adegan: Merenggangkanku dari jejakan langkahmu suatu kali ini.   Dan sekalipun urutan babak direncana, Akhir jalannya menuju dan tersibak. Sendirian. Sekaranglah waktunya bagi Farisi. [1] Tinggal tidaklah seperti melangkah melintasi sehampar ladang.       Dari terjemahan bahasa Inggris oleh Henry Kamen dalam judul “Hamlet”. Termaktub dalam In the Interlude: Poems 1945 – 1960 (London: Oxford Unive...

JANUARI UTAMA/Octavio Paz

    Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.     Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.   ...

KISAH PENGHUJUNG TAHUN: Daun Terakhir (O. Henry)

DI DAERAH KECIL kota itu dari barat Alun-Alun Washington , [1] jalanan telah menjadi simpang siur. Mereka berbelok ke arah berbeda. Mereka pecah menjadi ruas kecil yang disebut “tempat”. Satu jalan menyeberangi dirinya sendiri satu atau dua kali. Seorang pelukis suatu kali menemukan sesuatu yang niscaya dan bernilai dari jalan ini. Sekiranya seorang pelukis memiliki sejumlah bahan lukis untuk yang ia tidak membayarnya. Sekiranya ia tidak memiliki uang. Sekiranya seorang lelaki datang untuk mendapatkan uang itu. Lelaki itu mungkin menuruni jalanan itu dan mendadak menjumpai dirinya ke situ lagi, tanpa menerima sesen pun! Daerah dari kota ini bernama Desa Greenwich . Dan ke Desa Greenwich tua para pelukis segera tiba. Di sini mereka menemukan kamar yang mereka sukai, berpenerangan baik dan ongkos yang rendah. Sue dan Johnsy tinggal pada puncak sebuah bangunan dengan tiga lantai. Salah satu dari wanita muda ini berasal dari Maine , [2] yang lain dari California . [3] Mereka telah...