Posts

PERSAHABATAN SAN ROSARIO/O. Henry (Bag. II-Selesai)

...  Nettlewick menempatkan diri di kursinya. Tidak akan jadi pergi dari San Rosario hari itu baginya. Ia harus mengirim telegraf kepada Pengawas Peredaran; ia harus mengangkat suatu sumpah dakwaan di hadapan Komisioner Amerika Serikat untuk penahanan atas Mayor Kingman; barangkali ia akan diperintahkan menutup bank itu lantaran hilangnya surat-surat berharga tersebut. Bukanlah kejahatan pertama yang telah si penguji itu gali. Satu atau dua kali pergolakan mencemaskan dari emosi manusia yang penyelidikannya telah lepaskan nyaris menyebabkan riak dalam ketenangan dari sikap resminya. Ia telah melihat orang-orang bank berlutut dan memohon dan meratap seperti wanita demi suatu kesempatan—waktu sejamnya—maaf terhadap suatu kesalahan tunggal. Seorang juru kas telah menembak dirinya sendiri pada meja tulis sang mayor di hadapannya itu. Tidak ada seorang pun dari mereka menerimanya dengan martabat dan ketenangan dari orang-orang Barat lama yang keras ini. Nettlewick merasa bahwa ia berkew...

PERSAHABATAN SAN ROSARIO/O. Henry (Bag. I)

  Kereta lingkar barat berhenti di San Rosario tepat waktu pukul 8.20 pagi. Seorang lelaki dengan sebuah dompet kulit warna hitam tebal pada lengannya meninggalkan kereta itu dan melangkah cepat-cepat ke jalan besar kota. Terdapat para penumpang lainnya yang turun di San Rosario, tapi mereka entah membungkuk lentur pada warung makan rel atau kedai tuak “Silver Dollar”, atau bergabung kelompok pemalas dekat stasiun. Kebimbangan tidak punya tempat dalam gerakan lelaki dengan dompet itu. Ia bertinggi badan pendek, tapi gempal, dengan rambut terpangkas rapat, sangat tipis, halus, wajah penuh itikad, dan kacamata hidung yang dilingkari emas, garang. Ia berpakaian rapi dalam gaya Ketimuran pada umumnya. Suasana lelaki itu mengartikan suatu ketenangan meski daya kehati-hatian yang sadar, jika bukan wibawa sesungguhnya. Usai berjalan sejarak tiga alun-alun ia menjumpai pusat wilayah perniagaan kota. Di sini jalan penting lainnya melintangi jalan besar, membentuk naf kehidupan dan perniaga...

DESA TUA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar     Hutan ini melahirkanku jalan-jalan tinggi dari batu lorong-lorong panjang di antara pohon kayu.   Mereka mengenalku dan mengerti                           bahwa nafasku, pernah mereka temui ketika matahari jadi begitu rendah di bawah, di kaki bukit yang rekah.   Di bawah, di kaki bukit yang rekah desa itu rebah pintu gerbangnya membuka waktu pada jembatan, jalan, rumah dan peristiwa-peristiwa.   Juga luka yang tak berdiri menerbangkan tarian doa ke angkasa sebagai burung bersayap cahaya di mana jalan bagi lelaki tua dan kenangan-kenangannya.   2008  

MIMPI JAHAT/Georg Trakl

  Nada sebuah gong cokelat emas tiada lagi nyaring— Sepasang pecinta terbangun dalam bilik yang memburam, Pipinya hampir berkobar hingga dari jendela berkelip redup. Di atas sungai berkilas temali, tiang, dan selubung.   Seorang rahib, seorang wanita hamil di tengah kerumun; Gitar dipetik, busana merah tedas berkilauan. Dalam pancaran keemasan kastanye itu meringkuk dan menghangat; Kemegahan dukana gereja membayang hitam dan bangga.   Roh jahat mengintai dari cadar putih. Alun-alun mulai suram, seram, dan bengis; Bisikan bangkit pada pulau dalam gelap.   Penderita kusta, yang barangkali merana di malam hari,      Membaca pertanda kusut dari terbangnya burung. Para saudara kandung memandang satu sama lain, gemetar dalam taman.       (Diperoleh dari judul “Dream of Evil” karya Georg Trakl. Termaktub dalam Song of the Departed: Selected Poems of George Trakl (Copper Canyon Press, 2012), dalam t...