Posts

JANUARI UTAMA/Octavio Paz

    Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.     Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.   ...

KISAH PENGHUJUNG TAHUN: Daun Terakhir (O. Henry)

DI DAERAH KECIL kota itu dari barat Alun-Alun Washington , [1] jalanan telah menjadi simpang siur. Mereka berbelok ke arah berbeda. Mereka pecah menjadi ruas kecil yang disebut “tempat”. Satu jalan menyeberangi dirinya sendiri satu atau dua kali. Seorang pelukis suatu kali menemukan sesuatu yang niscaya dan bernilai dari jalan ini. Sekiranya seorang pelukis memiliki sejumlah bahan lukis untuk yang ia tidak membayarnya. Sekiranya ia tidak memiliki uang. Sekiranya seorang lelaki datang untuk mendapatkan uang itu. Lelaki itu mungkin menuruni jalanan itu dan mendadak menjumpai dirinya ke situ lagi, tanpa menerima sesen pun! Daerah dari kota ini bernama Desa Greenwich . Dan ke Desa Greenwich tua para pelukis segera tiba. Di sini mereka menemukan kamar yang mereka sukai, berpenerangan baik dan ongkos yang rendah. Sue dan Johnsy tinggal pada puncak sebuah bangunan dengan tiga lantai. Salah satu dari wanita muda ini berasal dari Maine , [2] yang lain dari California . [3] Mereka telah...

REMBULAN DI ATAS KOTAGEDE

Sajak Rudiana Ade Ginanjar   Ada senja di atas Kotagede. Seraut bayang kabur, Kekasih di talam malam.   Usia menjadi emas, kala—roda gerigi mengikis.   Tahun-tahun anyelir, seakan menemu jalan dan kalimat. Sebatang beringin ranum oleh bayangan.   Di tahun yang tamasya, kelokan itu, kuingat mendaki ke langit.   Orang-orang dari jauh, dengan hati yang jauh, mulai menyimak jarak di riwayat abad.   Inilah waktunya, panggung telah ditata suara-suara sibuk             mencari mulut yang menyebut dalam cinta, malam mekar musik.   Bulan sewarna emas, ruang—hawa takjub menampung.   2023  

ETUDE DI SUATU MASA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar       Kata-kata telah jatuh, mungkin hujan. Hening meletuskan nyanyian sekuntum kembang malam yang mekar             di kebun seorang sufi.   Sekali waktu debur hangat matahari yang dikuduskan mulai menitahkan gerimis pergi.   Bagaimana waktu akan mencari nada pertama pertemuan.   Lagu ini terus sembunyi, ke balik pohon malam. Lagu musim berakhir hujan.   Ada sungai panjang menjadi tampungan hati. Sungai dari masa silam, tempat senandung murni hari.   Aku harus tidur, sambil menyalakan mimpimu. Tidur, dengan matahari tugur . [1]   Minggu demi minggu, bulan memangkas             warna malam; puncak-puncak pohon kini silau oleh gema cahaya.   Pada denyut pertama, alun tengah hari. Pada rentang yang melintas refrain [2] keterjagaan kita...