Posts

PERSAHABATAN SAN ROSARIO/O. Henry (Bag. I)

  Kereta lingkar barat berhenti di San Rosario tepat waktu pukul 8.20 pagi. Seorang lelaki dengan sebuah dompet kulit warna hitam tebal pada lengannya meninggalkan kereta itu dan melangkah cepat-cepat ke jalan besar kota. Terdapat para penumpang lainnya yang turun di San Rosario, tapi mereka entah membungkuk lentur pada warung makan rel atau kedai tuak “Silver Dollar”, atau bergabung kelompok pemalas dekat stasiun. Kebimbangan tidak punya tempat dalam gerakan lelaki dengan dompet itu. Ia bertinggi badan pendek, tapi gempal, dengan rambut terpangkas rapat, sangat tipis, halus, wajah penuh itikad, dan kacamata hidung yang dilingkari emas, garang. Ia berpakaian rapi dalam gaya Ketimuran pada umumnya. Suasana lelaki itu mengartikan suatu ketenangan meski daya kehati-hatian yang sadar, jika bukan wibawa sesungguhnya. Usai berjalan sejarak tiga alun-alun ia menjumpai pusat wilayah perniagaan kota. Di sini jalan penting lainnya melintangi jalan besar, membentuk naf kehidupan dan perniaga...

DESA TUA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar     Hutan ini melahirkanku jalan-jalan tinggi dari batu lorong-lorong panjang di antara pohon kayu.   Mereka mengenalku dan mengerti                           bahwa nafasku, pernah mereka temui ketika matahari jadi begitu rendah di bawah, di kaki bukit yang rekah.   Di bawah, di kaki bukit yang rekah desa itu rebah pintu gerbangnya membuka waktu pada jembatan, jalan, rumah dan peristiwa-peristiwa.   Juga luka yang tak berdiri menerbangkan tarian doa ke angkasa sebagai burung bersayap cahaya di mana jalan bagi lelaki tua dan kenangan-kenangannya.   2008  

MIMPI JAHAT/Georg Trakl

  Nada sebuah gong cokelat emas tiada lagi nyaring— Sepasang pecinta terbangun dalam bilik yang memburam, Pipinya hampir berkobar hingga dari jendela berkelip redup. Di atas sungai berkilas temali, tiang, dan selubung.   Seorang rahib, seorang wanita hamil di tengah kerumun; Gitar dipetik, busana merah tedas berkilauan. Dalam pancaran keemasan kastanye itu meringkuk dan menghangat; Kemegahan dukana gereja membayang hitam dan bangga.   Roh jahat mengintai dari cadar putih. Alun-alun mulai suram, seram, dan bengis; Bisikan bangkit pada pulau dalam gelap.   Penderita kusta, yang barangkali merana di malam hari,      Membaca pertanda kusut dari terbangnya burung. Para saudara kandung memandang satu sama lain, gemetar dalam taman.       (Diperoleh dari judul “Dream of Evil” karya Georg Trakl. Termaktub dalam Song of the Departed: Selected Poems of George Trakl (Copper Canyon Press, 2012), dalam t...

SANG KEPALA KANTOR POS/Rabindranath Tagore

    DALAM TUGAS PERTAMANYA, sang kepala kantor pos mendatangi Desa Ulapur. Sebuah desa yang sangat rendah hati. Terdapat pabrik nila dekat desa itu, dan pengelola orang Inggrisnya telah membangun sebuah kantor pos dengan banyak ikhtiar. Kepala kantor pos itu seorang pria Kalkuta—ia serupa seekor ikan keluar dari perairan di sebuah desa seperti ini. Kantornya berada di dalam pondok jerami gelap; terdapat sebuah kolam di sampingnya, dipenuhi kekam dengan rumput liar, dan belantara mengelilingi. Perantara dan pegawai pabrik nila susah memiliki sedikit waktu luang, dan bukanlah perusahaan yang cocok bagi seorang lelaki terpelajar. Atau agaknya, latar belakang kehidupan Kalkutanya membuat si kepala kantor pos seorang yang kurang pandai bergaul—dalam suatu tempat yang tidak dikenal ia jadi entah sombong atau tidak betah. Jadi, tidak terlalu banyak persinggungan antara ia dengan orang-orang yang menetap di wilayah itu. Namun, ia punya sangat sedikit pekerjaan. Terkadang ia mencoba me...