Posts

Showing posts with the label Puisi

DUSTA HUJAN

Sajak Rudiana Ade Ginanjar     Baiknya kuputar lagu saja, malam kian asing—perayaan telah berakhir, lagu sedih tentang cuaca.   Apakah hujan telah menjadi hantu?   Payah, angin kisah candu. Akan lenyap tanda terang dari wajah seorang; akan berlinang dengan jelas: sesal.   Namun siapa meminta kemarau berakhir?   Bulan November tiba, sesaat hujan menjadi hantu.   2023         

POHON MALAM

Sajak Rudiana Ade Ginanjar Ah, malam sebatang pohon tinggi. Biarkan segenap cahaya merintis             jalan ke peristirahatan.   Ke sebalik batang, ke kelam warna.   Wajah-wajah Juli seakan nyanyian             memendar nada; di awal musim kelabu, sungai-sungai hening matahari dan bukit sunyi.   Segala melihat dirinya, sendiri—sebuah bentangan cermin.   Bagai ujung jalan yang padanya menara penjaga. Pintu-pintu menujumu telah lama             melekat dalam dingin, dan paras pagi menjadi legenda.   Kita terbiasa bertemu ke dalam lagu memburu:             tahun-tahun gugur semisal seragam abu masa remaja, riuh jadi pasir pantai.   Di paruh tahun, apa saja adalah puncak dari bayang hujan terakhir.   Ngeri tidak berujung, gamang tak terhi...

SORE DAN HUJANNYA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar   Tahun-tahun berlalu, masih dalam bayang. Inilah mimpi ketujuh, cahaya berbinar dan lautan bernyanyi. Hanya desir, tiupan angin; desa tertidur oleh warna hatta.   Ke dalam cahaya berbinar masa laluku.   Aku telah nyanyikan kidung, dibawa malam. Telah tuntas misteri, tahun-tahun melepas cadar hujan dan selimut awan.   Betapa kupanggil: cinta jauh. Cuaca kusam mentari,               hanya kelanjutan cerita kelak. Murni, sebentang jalan mendaratkan tuju.   2025 

JANUARI UTAMA/Octavio Paz

    Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.     Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.   ...

REMBULAN DI ATAS KOTAGEDE

Sajak Rudiana Ade Ginanjar   Ada senja di atas Kotagede. Seraut bayang kabur, Kekasih di talam malam.   Usia menjadi emas, kala—roda gerigi mengikis.   Tahun-tahun anyelir, seakan menemu jalan dan kalimat. Sebatang beringin ranum oleh bayangan.   Di tahun yang tamasya, kelokan itu, kuingat mendaki ke langit.   Orang-orang dari jauh, dengan hati yang jauh, mulai menyimak jarak di riwayat abad.   Inilah waktunya, panggung telah ditata suara-suara sibuk             mencari mulut yang menyebut dalam cinta, malam mekar musik.   Bulan sewarna emas, ruang—hawa takjub menampung.   2023  

ETUDE DI SUATU MASA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar       Kata-kata telah jatuh, mungkin hujan. Hening meletuskan nyanyian sekuntum kembang malam yang mekar             di kebun seorang sufi.   Sekali waktu debur hangat matahari yang dikuduskan mulai menitahkan gerimis pergi.   Bagaimana waktu akan mencari nada pertama pertemuan.   Lagu ini terus sembunyi, ke balik pohon malam. Lagu musim berakhir hujan.   Ada sungai panjang menjadi tampungan hati. Sungai dari masa silam, tempat senandung murni hari.   Aku harus tidur, sambil menyalakan mimpimu. Tidur, dengan matahari tugur . [1]   Minggu demi minggu, bulan memangkas             warna malam; puncak-puncak pohon kini silau oleh gema cahaya.   Pada denyut pertama, alun tengah hari. Pada rentang yang melintas refrain [2] keterjagaan kita...