POHON MALAM

Sajak Rudiana Ade Ginanjar


Ah, malam sebatang pohon tinggi.

Biarkan segenap cahaya merintis

            jalan ke peristirahatan.

 

Ke sebalik batang,

ke kelam warna.

 

Wajah-wajah Juli seakan nyanyian

            memendar nada;

di awal musim kelabu,

sungai-sungai hening

matahari dan bukit sunyi.

 

Segala melihat dirinya,

sendiri—sebuah bentangan cermin.

 

Bagai ujung jalan

yang padanya menara penjaga.

Pintu-pintu menujumu telah lama

            melekat dalam dingin,

dan paras pagi

menjadi legenda.

 

Kita terbiasa bertemu

ke dalam lagu memburu:

            tahun-tahun gugur semisal seragam abu

masa remaja,

riuh jadi pasir pantai.

 

Di paruh tahun, apa saja adalah puncak

dari bayang hujan terakhir.

 

Ngeri tidak berujung,

gamang tak terhitung.

 

Perahu yang diutus ke pusar samudra.

 

Aku masih harus menyusur,

jalan kembali. Tunas-tunas ragu

menuntunnya.

 

Ah, malam sebatang pohon tinggi.

Di dekatku, musim hujan mencari cara

            menghentikan daras.

Di dekatku, masa kanak memanggil.

 

Maka, kita adalah kerumunan burung

di senja Juli. Mereka yang memburunya,

            melihat hutan jadi gergasi

dari roh para imigran peralihan.

 

2025

 



Comments

Popular posts from this blog

CAHAYA DAN BENANG: Bagian 1 (Han Kang)

JAUH DARI PALESTINA

KISAH PENGHUJUNG TAHUN: Daun Terakhir (O. Henry)