Posts

Showing posts with the label Puisi Terjemahan

MIMPI JAHAT/Georg Trakl

  Nada sebuah gong cokelat emas tiada lagi nyaring— Sepasang pecinta terbangun dalam bilik yang memburam, Pipinya hampir berkobar hingga dari jendela berkelip redup. Di atas sungai berkilas temali, tiang, dan selubung.   Seorang rahib, seorang wanita hamil di tengah kerumun; Gitar dipetik, busana merah tedas berkilauan. Dalam pancaran keemasan kastanye itu meringkuk dan menghangat; Kemegahan dukana gereja membayang hitam dan bangga.   Roh jahat mengintai dari cadar putih. Alun-alun mulai suram, seram, dan bengis; Bisikan bangkit pada pulau dalam gelap.   Penderita kusta, yang barangkali merana di malam hari,      Membaca pertanda kusut dari terbangnya burung. Para saudara kandung memandang satu sama lain, gemetar dalam taman.       (Diperoleh dari judul “Dream of Evil” karya Georg Trakl. Termaktub dalam Song of the Departed: Selected Poems of George Trakl (Copper Canyon Press, 2012), dalam t...

HAMLET/Boris Pasternak

    Keheningan huru-hara. Aku berdiri di atas panggung Menghadap sebuah tiang pintu, menghitung samar Dari tilas akan suatu gema jauh terdengar Apakah batang usiaku yang belum usai mungkin masih terbawa.   Kelam malam mengguyur dari cermin-cermin opera ini Yang dalam ribuan rentetannya tatapan mereka padaku: Namun Abba, Ayah, bila menjadi keinginanmu, Angkatlah piala ini dalam ampunanmu.   Maksudmu menjaga cintaku dengan teguh, Peran ini kautata aku puas memainkannya; Meski kini sebuah sandiwara lain memulai adegan: Merenggangkanku dari jejakan langkahmu suatu kali ini.   Dan sekalipun urutan babak direncana, Akhir jalannya menuju dan tersibak. Sendirian. Sekaranglah waktunya bagi Farisi. [1] Tinggal tidaklah seperti melangkah melintasi sehampar ladang.       Dari terjemahan bahasa Inggris oleh Henry Kamen dalam judul “Hamlet”. Termaktub dalam In the Interlude: Poems 1945 – 1960 (London: Oxford Unive...

JANUARI UTAMA/Octavio Paz

    Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.     Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.   ...

MIMPI YANG SERING TERULANG (Robert Frost)

  Dia tidak cukup mengatakan kegelapan   Demi cemara tua yang terus Selalu menguji kait jendela   Dari kamar tempat mereka lelap.   Tangan-tangan tak letih walau tak berguna   Yang bersama tiap lalu sia-sia Membuat pohon raksasa tampak seakan seekor burung mungil   Di hadapan rahasia kaca!   Tak pernah masuk ke dalam kamar itu,   Dan hanya satu dari keduanya Cemas oleh mimpi yang sering terulang   Atas kehendak pohon itu.       Judul asli, “The Oft-Repeated Dream” karya Robert Frost. Terangkum dalam antologi Mountain Interval (1916). Diterjemahkan oleh Rudiana Ade Ginanjar . Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.

PENYAIR BERANJAK TUA (Pablo Neruda)

  Ia memberiku lengannya seperti sebatang pohon tua yang menjulurkan cabang dahannya, tak berdaun dan tiada berbuah. Tangan nya yang tak melipat, selagi menulis, serat dan anyaman dari sebuah nasib, sekarang bersinar dengan lurikan gurat rambut: hari dan bulan dan tahun. Kala mencorat-coret kegersangannya pada wajahnya, membangkang dan kurus, seakan-akan membagi segenap garis dan tanda kelahirannya, setakat, sedikit demi sedikit, udara akan memekikkan apa yang ia lihat dan menegakkannya di sana.   Batas memanjang tempat kedalaman berada, bab yang padat selama tahun-tahun wajahnya, perlambang yang bersungut-sungut, dan fabel samar-samar, tanda bintang— apa pun yang sirene itu lupa dalam tua pengasingan jiwa, atau menetes dari langit dan gemintang, dicetak pada wajahnya. Kuno dan bardic , [1] penanya tiada pernah terpaku di atas halaman bandel sungai yang meluap sepanjang hidup kita atau dewa tak bernama yang merawat sajaknya. Sekarang pada tulang pipinya segenap dari  mis...

JANUARI UTAMA (Octavio Paz)

  Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.    Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.                 —M...

SAJAK PENGHUJUNG TAHUN: Pablo Neruda, "Penyair Angkasa"

      Apakah ia datang pada, kalian Gidean , [1] Rilkean , [2] juru niaga cendekia, jalan samar, keliru pawang sihir keberadaan kita, kaum surealis kupu-kupu yang menyala-nyala pada daging busuk, diri terkini mayat dataran luas, tempayak hijau dalam keju dari Ibu kota—apa yang telah kau perbuat di kerajaan sekarat, dalam wawasan atas kemanusiawian tak bernama dan mufakat diam mereka menjengkelkan, kepala-kepala tenggelam dalam sisa-sisa, yang tergaruk sari pati hidup terinjak-injak?   Terbang dan meloloskan diri: tiada lagi. Kau jajakan kulit tumpuk timbunan sampah, menyelidik demi sebuah surga rambut, tumbuhan cabar hati, kupasan kuku jari: “Indah murni”, “sihir”— segala yang piranti malang si pengecut memalingkan pandangan mereka, menjeling curiga,   melepas bola mata lembut mereka, mengakar dalam sebuah pinggan pembilasan dan sampah terempas padamu di sana dari sang tuan, membuta pada yang berlalu yang bekerja dalam batu, menyangkal seluruh perselisihan, ta...