PENYAIR BERANJAK TUA (Pablo Neruda)

 


Ia memberiku lengannya

seperti sebatang pohon tua

yang menjulurkan cabang

dahannya,

tak berdaun

dan tiada berbuah.

Tangan

nya

yang tak melipat, selagi menulis,

serat dan anyaman

dari

sebuah nasib,

sekarang bersinar

dengan lurikan

gurat rambut:

hari dan bulan dan tahun.

Kala

mencorat-coret

kegersangannya

pada wajahnya,

membangkang

dan kurus,

seakan-akan

membagi

segenap garis dan tanda

kelahirannya,

setakat, sedikit demi sedikit,

udara akan memekikkan apa yang ia lihat

dan menegakkannya di sana.

 

Batas memanjang tempat kedalaman berada,

bab yang padat

selama tahun-tahun wajahnya,

perlambang yang bersungut-sungut,

dan fabel samar-samar,

tanda bintang—

apa pun yang sirene itu lupa

dalam tua

pengasingan jiwa,

atau menetes

dari langit dan gemintang,

dicetak

pada wajahnya.

Kuno

dan bardic,[1]

penanya

tiada pernah terpaku

di atas halaman bandel

sungai yang meluap

sepanjang hidup kita

atau dewa tak bernama

yang merawat sajaknya.

Sekarang

pada tulang pipinya

segenap dari 

misteri itu

mendenah

aljabarnya

dalam dingin

penyingkapan rahasia:

sedikit,

cemooh

tak berubah

dari yang kurang berharga, 

memotong dalam-dalam

pada halaman dari

dahinya;

dan

tercekik lapar

sebagai paruh

dari kembaraan burung dandang,

perjalanan dan perairan

telah mendarat

pada kelangkaan

dari

hidungnya

kaligrafi

paling biru mereka.

 

Dua keping

geretan degil,

dua batu akik

berair:

hanya itu.

Sepasang matanya hidup

memerangi;

hanya di sana

aku mampu menghimpun

nyala api

dalam terak,

sekuntum mawar

pada lengan

sang penyair.

 

Sekarang

pakaiannya

menang angka darinya,

ia tinggal

dalam kehampaan

pakaiannya,

seperti sebuah rumah.

Seluruh tulang

dari

tubuhnya

terseret dekat

kulitnya

dan menyalahkannya terus-terusan:

tulang manusia

terpampang, sebuah pragambar

tonjolan tulang,

sebatang pohon surut

hingga sumsum tulang, di penghabisan,

seorang penyair

diusir

oleh corat-coret

hujan itu

dalam kucuran

tak pernah puas waktu.

 

Kutinggalkan dia di sana,

berpacu dengan maut,

melangkah ke hadapan kematian

seakan seorang yang menantikan kehadiran

mengupas habis-habis, seperti dirinya sendiri,

dalam sepetak taman menggelap;

masing-masing oleh yang lain,

mereka bergerak

menuju suatu

keacakan ranjang,

menuju tidurnya

kita mesti tidur dan terbangun bersama-sama,

siapa gerangan

adanya kita: seorang manusia

dengan

sekuntum mawar

yang menghinakan

dalam

genggamannya, berdebu

luruh

kepada debu.

 

 

 

 

(Diperoleh dari judul “Poet Grown Old”, karya Pablo Neruda. Termaktub dalam Selected Poems of Pablo Neruda (1961) dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Ben Bellit. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rudiana Ade Ginanjar. Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.)



[1] Tentang nyanyian atau syair; penyair bard (pengembara).







Comments

Popular posts from this blog

CAHAYA DAN BENANG: Bagian 1 (Han Kang)

JAUH DARI PALESTINA

KISAH PARA HERO