KISAH PARA HERO
Oleh: Rudiana Ade Ginanjar
BERBEDA DENGAN LELAKI lincah bernama Hercule Poirot, tokoh
penyidik yang lain yang juga berasal dari pengarang sama merupakan seorang
nenek berusia uzur. Di lain cerita, seri komik yang hingga kini masih meraja,
tokoh detektifnya merupakan seorang “bocah”. Namun Conan Edogawa, si bocah itu,
sesungguhnya adalah pria remaja sekolah menengah yang teracuni. Lebih mudah
bagi kita mencirikan sosok sang lakon dengan kegemilangan olah kecerdasan,
ketimbang hal-hal sederhana yang gampang hilang.
Saya berbicara tentang seorang lakon
dari cerita kriminal. Di banyak tema,
cerita bergenre misteri ini tidak kalah mengundang minat pembaca. Segala
sesuatunya menarik ketika kita bernostalgia dengan persepsi dasar dalam hidup:
kebaikan lawan kebatilan. Bahwa hanya dalam garis tegak ajek tersebutlah kita bisa mendapati kenikmatan untuk sejenak
kembali meraih keyakinan akan kebenaran. Tahun-tahun kegelisahan telah turut
meratapkan kita akan nasib dan tujuan. Teramat jarang sekarang ini kita jumpai
garis batas yang jelas atas sikap dan sifat manusia. Wilayah-wilayah hablur
berpendaran seiring tuntutan dan ego. Siapa yang tidak akan turut undur dari
kancah yang penuh pergolakan ini?
Beruntunglah kita menemukan sosok
seorang pengarang Bastian Tito (1945-2006) yang jenaka menghadapi amuk prahara
rimba persilatan di masa silam. Wiro Sableng, kondang dengan julukan Pendekar
Kapak Maut Naga Geni 212, telah menjalankan misi kepahlawanan dalam merawat
harapan setiap manusia. Meski buku-buku yang tersebar terbilang dicetak ala
kadarnya, pula ilustrasi sampul yang tidak jauh dari strategi bersolek dengan
wajah rupawan, seri cerita silat tersebut menggema hingga layar perak. Sebuah
sistematika bercerita konsisten ditunjukkan Tito. Hal itu berimbas tidak hanya
pada ukuran jumlah tapi ingatan kuat dalam diri tiap pembaca akan alur cerita
dalam lembaran buku. Gaya dan lagak dideskripsikan cukup kuat dengan repetisi
pada idiosinkrasi sang tokoh utama sehingga akan terkenang senantiasa. Setiap
dari kita berupaya menemukan jawaban-jawaban selanjutnya pada setiap seri:
jurus apa lagi yang akan dimunculkan? Ketegangan apa lagi yang akan muncul dari
sosok lawan yang seakan tiada habisnya? Hingga segalanya berujung pada
pertempuran sesungguhnya dari Wiro dan Pangeran Matahari.
Pada kebanyakan alur, kita akan menemui
gejala stereotip: tokoh-tokoh pendekar putih akan selalu menolong yang lemah.
Mereka adalah pribadi-pribadi yang kehadirannya tidak terpanggil dan senantiasa
memberi jalan keluar. Juga tak terhitung watak kesatria lain yang bakal
menjelma motif dari setiap seri. Kesetiaan, misalnya. Dalam seri “Delapan Sabda
Dewa”, keteguhan untuk mempertahankan amanah telah menjelma pengasingan
bertahun-tahun dari sang penjaga kitab sakti semata untuk menunggu kehadiran
pendekar yang diramalkan muncul. Muslihat, tragedi, pilihan hidup atau
kejujuran mewarnai perjalanan sang pendekar kocak tersebut. Cara bertutur Tito
ringkas, menghemat dari eksposisi berlebihan. Benar-benar berbeda dengan nuansa
sastrawi, atau lebih tepatnya semata genre sastra ringan. Keberadaannya
menjamin hiburan.
Pembaca dibesarkan dengan imajinasi
pertempuran dan kegagahan sang pahlawan. Dalam banyak bagian, menghadirkan
sosok tersebut lengkap sebagai pribadi cukup jarang. Kita hanya mengenal dua
konsep warna watak: baik dan buruk. Dalam drama dan jenis prosa berbeda,
tokoh-tokoh mengalami hijrah atau terperangkap dalam nista. Pengarang
menyediakan ruang perubahan. Selain itu, nilai minus dari cerita-cerita epik
terletak pada buruknya penggambaran watak itu sendiri. Terkadang hal tersebut
tidak kita sangka sama sekali. Bahwa lakon-lakon semisal Poirot, Wiro atau
Conan merupakan pribadi yang nyaris tidak mengalami perkembangan kepribadian
meski alur cerita telah mencapai perkembangan kronologis yang signifikan. Kita
jarang mempersoalkannya. Setiap pembaca telah sepakat untuk tetap
mempertahankan citra ideal sang pahlawan.
Keasyikan lain dari pembacaan atas
cerita detektif tentu kecerdikan sang pengarang lewat tokoh-tokoh mereka dalam
mengungkap kebenaran. Sering pembaca dipertemukan dengan situasi-situasi yang
tidak disangka-sangka. Beberapa ketegangan (suspense)
dijalankan dengan lekas, atraktif, dan mendebarkan seperti yang dilakukan Sir
Arthur Conan Doyle untuk gaya penyelidikan Sherlock Holmes. Beberapa yang lain
berlangsung lamban, penuh endapan atau renungan hingga berakhir dengan
puncak-puncak cerita yang karenanya telah bocor
oleh perkiraan pembaca sendiri. Dan itulah strategi yang dimiliki Agatha
Christie untuk tokoh si lelaki Poirot ataupun Nenek Marple. Mereka memiliki
ciri tersendiri, berhadapan dengan beragam kasus pembunuhan. Pada hemat saya,
pembaca dari kelompok usia remaja akan lebih menyukai garapan Sir Arthur
sedangkan kisah-kisah Agatha Christie hanya untuk para pembaca berkelas. Hal
itu bukan hanya sebab sisipan kisah romansa dalam diri Sherlock Holmes yang
tidak atau jarang disinggung dalam tokoh-tokoh utama Agatha, melainkan budaya
kita hari ini demikian menunjang ketergesaan. Apakah mungkin juga hal itu
disebabkan oleh perbedaan gender dari dua penulis masyhur tersebut? Dan coba
kita simak kembali, kiranya jalan cerita dari kebanyakan mereka tetaplah serupa:
pahlawan pembela kebenaran. Mereka terus mempertahankan semangat kita yang
hampir koyak dengan perjuangan, keuletan, penjelajahan hingga “pengungkapan
terakhir”. Dari satu bagian ke bagian berikutnya, seri cerita detektif
mempertahankan rasa penasaran tersebut. Bukan saja karena protagonis akan
mendalami beragam watak klien mereka tapi juga suatu rumusan ilmiah yang selalu
dihadirkan untuk membongkar kasus. Muslihatnya, rahasia kecilnya yang bisa saja
menjadi bukti kunci kebenaran. Cerita-cerita detektif lebih banyak bertarung
dalam wilayah tersebut, sungguhpun hal itu ada dalam cerita-cerita silat. Sebab
jalan masuk ilmu pengetahuan terapan lebih terbuka, kita tidak asing lagi
dengan rumusan ilmiah dalam argumentasi sang lakon cerita detektif. Namun “kebenaran sastra tampaknya merupakan
kebenaran dalam sastra, yaitu suatu
filsafat dalam bentuk konseptual sistematis dari luar bidang sastra yang
dituangkan atau diwujudkan dalam sastra” (Wellek & Warren, 2016: 29).
Karya-karya sastra, dengan demikian, mengesankan suatu “cara lain menyampaikan
kebenaran”. Beberapa kisah detektif bergema dalam kejadian sehari-hari akan
suatu kasus. Dalam kemampuan olah kata kita mendapatkan pandangan artistik dari
kenyataan sesungguhnya suatu kasus—yang bisa lebih buruk atau kejam.
Dengan demikian pula, jalan pencapaian
ke pengungkapan, sepak terjang sang pahlawan dalam cerita, menjadi sebentuk
metode ilmiah artistik. Dan manakah yang lebih memukau kita? Di hari-hari
perayaan suatu bangsa, potret-potret berjejer dengan perhatian dan rasa hormat
warga negaranya. Dan dalam prosa, pembaca absah memajang pigura sang hero di
ruang kekagumannya. Mereka menyiratkan hal-hal yang pada gilirannya saling
mengilhami satu sama lain. Watak-watak kesatria, ketabahan, dan suka menolong.
(*)
Rujukan:
-
Serial
detektif Agatha Christie, antara lain, Kubur
Berkubah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2017).
-
_______,
Misteri Karibia (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2018).
-
Serial
detektif Gosho Aoyama, antara lain, Detektif
Conan, Vol. 60 (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011).
-
Serial
silat Bastian Tito, antara lain, Wiro
Sableng: Delapan Sabda Dewa (Jakarta: Muncul Perdana).
-
Serial
detektif Sir Arthur Conan Doyle, antara lain, Sherlock Holmes: Sebuah Skandal di Bohemia dan Pria Berbibir Miring (Yogyakarta:
Laksana, 2013).
-
Rene
Wellek dan Austen Warren, Teori
Kesusastraan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016).
Comments
Post a Comment