SUARA PENYAIR MUDA JURANG ARA (Ulasan Buku)

 

Oleh: Rudiana Ade Ginanjar

 

PERJUMPAAN PERTAMA LAZIM memberi kesan tak terlupakan. Hal itu pula yang dialami Norrahman Alif dengan puisi. Upayanya untuk mengenal lebih dekat terhadap entitas baru yang disebut puisi menimbulkan dampak dari sisi emosi dan perilaku. Perasaan tiap manusia menemukan raut-penajam yang membuatnya tak abai terhadap situasi di luar diri, memberi pandangan pikir baru yang terasa filosofis, pencarian jati diri, dan beberapa pertanyaan lain timbul karena puisi.

Bukan hanya kepada hawa, sosok yang menanam pesona dalam tiap pertemuan pertama, diri kita kerap mendapat magnet perhatian baru dalam keberadaan ruang yang berbeda, tradisi lain yang karenanya kita merasa seakan tertinggal jauh atau terasing, atau kehendak untuk memasuki satu wilayah keterikatan baru di mana pengenalan antarkepribadian berlangsung. Segalanya memberi rangsangan (impulse) dan penyair mencoba melakukan dialog dengan bahasa baru tersebut meski terbata-bata. Lazim pula dipahami bahwa tema perenungan berangkat dari perlawanan atas ketidakadilan, keprihatinan, atau pencarian akan jawaban. Secara intuitif puisi meretas jalan bagi nalar kreatif kita. Di sisi lain, puisi dengan halus memberi ragam pengertian baru terhadap laku keseharian kita. Keterpesonaan tersebut menautkan kecemasan kita dengan rasa penasaran yang bak tak sudah-sudah. Mereka yang memulai, merasakan dorongan menggebu dan terbangunkan. Hanya dengan keberanian seorang mampu memasukinya.

Puisi merupakan suatu ekspresi, daya ungkap. Setiap individu mendapat cara pengungkapan tak lazim dari puisi. Keberadaan mereka tergambar dari cara mereka memasuki dunia puitik. Sisi feminin seorang akan lebih bisa  menggelincirkannya pada irama melankolia, hanyut oleh keterharuan atau bahagia. Karena sentuhan aneh itu pula, seorang menyediakan diri untuk termangu dan merenung lebih banyak dari hari-hari biasanya. Situasi-situasi orientatif ini menyebar dalam sajak-sajak pertama—suatu proses awal karir yang menentukan. Begitu banyak pertanyaan dan begitu sering jawaban bersembunyi. Kendati sebagian besar penyair menerima sentuhan sentimental dalam fase pertama, Norrahman Alif mencoba berpikir lebih kritis. Sajak-sajaknya lirik, tentu. Tampak dari bentuk dan kesetiaanya dengan pola pembaitan, rima, ironi yang terkadang berselimut paradoks. Bentuk-bentuk tersebut, bagaimanapun, belum disiplin. Waktu terbentang bagi si penyair untuk menjelajah lebih jauh dan dia bisa mematangkan penalaran. Salah satu yang menarik: balada. Jika kecenderungan liris dengan mudah ditengarai (latar belakangnya sebagai santri membuatnya lebih mudah mengenal bentuk-bentuk syair liris) maka ciri balada seolah menjadi pembicaraan yang kurang relevan. Bagaimana jika dalih itu hanya karena kita jarang diingatkan akan genre tersebut? Dalam beberapa bagian, penyair mencari hubungan antara akar kebudayaan leluhur lewat apa yang ia sebut sebagai “instrumen tradisi, adat, dan budaya dalam berkehidupan bersama masyarakat kecil dan sederhana” (hlm. x). Ia sempat menyinggung perihal ludruk, bukan untuk mencari definisi puitik memang alih-alih menjadikan pagelaran tersebut sebagai ruang penghibur masyarakat pedusunan. Sebenarnya, dari sajak “Menonton Ludruk” kita bisa menemukan salah satu fungsi tradisi kebudayaan itu. Tapi kita membicarakan puisi. Penyair berdiri di antara realitas dan imajinasi serta bergelut dalam usahanya menyusun satu bentuk ekspresi verbal yang disebut puisi. Suara yang terbangun menjadi ciri dan menakar sejauh mana ketajaman perasaan dan pikiran. Baris-baris panjang amat jamak, diksi tersusun dalam gabungan analogi sederhana. Seorang dengan bakat musik akan lebih mudah menggubahnya sebagai nyanyian.

Namun suara Norrahman Alif tidak berakar dari cerita kuno.

Suara hati dan renungan adalah dua hal pertama yang diterima si penyair tatkala mencoba memahami puisi. Dalam satu sisi, definisi-definisi awal itu benar. Dan definisi-definisi tersebut kental dengan aroma romantik. Jenis sastra tersebut, sebagaimana kita tahu, menjadi populer di tahun-tahun awal kesusastraan Indonesia bersama aliran lain yang tak kalah intens, religius. Amir Hamzah, Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono menjadi maestro. Kebanyakan dari kita muncul dari bayang-bayang “Buah Rindu”, “Aku”, atau “Hujan Bulan Juni”. Membandingkan nama besar mereka tentulah tidak sepadan. Kita hanya mencoba mencari teladan terbaik. Tradisi liris dalam syair kita dapatkan dari kisah “Layla Majenun”. Dan sumber-sumber yang paling mungkin adalah kasidah, selawat, dan tafsir atas kitab suci—Alquran, seturut pegangan religius penyair. Eksistensi penyair, dengan demikian, mendapat pengaruh dari lingkungannya. Tak terelakkan. Acep Zamzam Noor membesarkan puisinya dalam tradisi liris dan kekaguman akan keindahan alam. Acep tumbuh dari lingkungan pesantren. Ahmad Tohari, dari wilayah prosa, menerapkan konsep agama sebagai jawaban atas persoalan-persoalan sosial. Dan Norrahman Alif, penyair muda itu, sedang dalam langkah pertamanya, malu dan masam, mencari bentuk serupa. Ia lebih banyak mengeluh, saya kira. Dan siapa yang tidak merasakan hal yang sama dalam perjumpaan pelik dengan puisi? Yang mendapati diri “terasuki” dan berjuang untuk menenangkan diri? Suara-suaranya profan dan polos. Suara yang membutuhkan lebih banyak ketabahan untuk menghadapi derita orang-orang bawah: kemiskinan, kebodohan, dan keterpencilan. Kesunyian dalam satu sudut pandang mengisyaratkan kedamaian, kententeraman iman. Tapi hal itu bisa menjadi sebentuk kegelisahan bagi mereka yang terlahir minor dan tertindas. Kegelisahan yang bisa meninggi membentuk perlawanan jika tiada proses antisipasif baik dari diri dalam bentuk pendewasaan atau dari pemerintah sebagai pelindung atas yang lemah. Beruntungnya, kebijaksanaan tidak lantas hilang dari diri penyair kendati berhadapan dengan realitas yang tidak menyenangkan. Sifat dan perilaku leluhur, keluarga, dan hubungan kekerabatan menjadi penangkal mujarab kesedihan. Hingga tercetuslah, “maka, hari ini, di kota kata-kata, kukenang segala babad/ kampung jurang ara dalam puisi dan ingatan/ sebagai takzimku pada tanah kelahiran” (“Kenangan Jurang Ara”).

Kata, tak dipungkiri, telah menjadi jalan keluar penyair. Riwayatnya yang kronis menunjukkan pada kita bahwa kata mengemban misi setiap pengujarnya. Yang diyakini sejak dahulu sebagai awal mula sejarah. Huruf menandai masa ketika manusia keluar dari zaman kegelapan prasejarah.

Dari sekadar memahatnya di dinding gua, merawatnya di diari, hingga mengedarkan ke hadapan khalayak sebagai maklumat atau perkabaran, kata telah menjembatani komunikasi diri dan dunia luar. Ia—dalam wujud puisi, merupakan instrumen, sebut penyair, atas eksistensinya. Tersebab kata seorang memangkas jarak waktu dari para pendahulu untuk menyimak kembali ajaran mereka, gagasannya yang selama ini dikenal hanya dari mulut ke mulut. Dan sebaliknya ketiadaannya menjadikan diri penyair kering serupa “kayu-kayu bakar dalam/ tungku ibu menanak nasi jagung” (“Bersama Kata: Waktu Bercahaya, Hidupku Kembali Jaya”).

Ritus Keseharian dan Cinta Kelabu

Maka dimulailah. Kata membangkitkan elan kesadaran manusia atas realitas. Ketika penyair menemukan cara yang tepat untuk menumpahkan perasaannya, kegelisahannya, maka kata menjelma ruang ekspresi. Dia mengirimkan pesan, keluhan, sunyi, dan ingatan akan kerinduan. Penyair menerjemahkan keseharian dalam wujud sublim puisi. Yang meski longgar, puisi lirik Alif secara halus mengendurkan ketegangan-ketegangan kita akan waktu. Masa depannya ketika derita menuntut terlalu jauh, masa silam ketika keriuhan urban mengasingkan nilai-nilai humanisme. Di dalam garis asal-usul lelaki kampung, Norrahman Alif merayakan keseharian dalam puisi. Tempat segala yang tampak remeh menjadi lebih bermakna. Beberapa telah terasa lasak, beberapa yang lain menjadi sebuah kebutuhan. Menyatukan jarak antara ritus keseharian dan puisi membuat sebagian karyanya lantas lekat dengan tabiat penyair itu sendiri. “Sebab sebuah peristiwa yang sangat dekat dan berulang-ulang terjadi di sekitar hidup kita setiap hari dengan dinamika lingkungannya pasti akan terbawa, sadar atau tidak, suasananya akan terbawa ke dalam puisi yang kita tulis,” tulisnya dalam pengantar (hlm. ix). Ciri masyarakat agraris pun mewarnai sajak-sajaknya. Meski Madura dikenal sebagai pulau yang melahirkan lanskap laut penyairnya—kita melihat dalam diri D. Zawawi Imron; Jurang Ara memunculkan sosok Norrahman Alif sebagai seorang yang dekat dengan kehidupan petani.

Walakin, puisi lirik erat dengan romantisisme. Dalam romantisisme kedirian penyair menonjol. Dan tegangan antara pengalaman penyair dan realitas menjadi hakikat karya sastra. Terjadi pergulatan antara desakan batin penyair dan lingkungan. Pada titik inilah cinta keluar mengambil peranan. Peristiwa-peristiwa di luar diri penyair seolah mengambil jalan paralel terhadap nasib cintanya. Sebab “ketika kau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersekongkol membantumu meraihnya,” ujar Paulo Coelho dalam Sang Alkemis. Butuh keteguhan untuk mencapai tujuan itu dan seperti halnya kita pernah mengalami, jatuh dan merasa sakit oleh kegagalan sering kali terkenang. Kehendak besar si penyair muda bergerak tak tentu arah dan acap kali tenggelam. Kita membaca sajak-sajak kelabu di akhir buku. Cinta yang kelabu. Maka ketika “langit sehitam biji jagung di dagumu, sevgili[1]/ yang membuatku segera dan selalu ingin memetiknya” serta-merta muncul “angin kangen berkesiur dari barat kenangan/ yang dingin menelanjangi seluruh kehangatan” (“Angin Menulis Rindu, Sevgili”). Melankolia itu mewarnai di banyak tempat, berbalut dengan derita kehidupan petani miskin. Keterbatasan diri itu tidak lantas menyurutkan tekad, hebatnya. Cinta telah menjadi kekuatan selain kata. Kesetiaanya terhadap warisan leluhur, tanah dan tradisinya, sedikit demi sedikit menguatkan keyakinan penyair atas anugerah kehidupan.

Sementara pada saat yang sama, orang-orang telah pergi dan menyerah. Mengadu nasib ke kota-kota. (*)




Identitas Buku




Judul

:

Mimpi-mimpi Kita Setinggi Rumputan

Penulis

:

NORRAHMAN ALIF

Penerbit

:

Sublim Pustaka Aksara, Palembang

Cetakan

:

Cet. I, November 2019

Tebal

:

xiv + 70 hlm.; 13 x 19 cm

ISBN

:

978-623-90452-5-8






 


 





[1] Sayang, kekasih (Turki).





Comments

Popular posts from this blog

CAHAYA DAN BENANG: Bagian 1 (Han Kang)

JAUH DARI PALESTINA

KISAH PARA HERO