CAHAYA DAN BENANG: Bagian 2 (Han Kang)
...
Dengan membaca kalimat-kalimat ini, saya mengetahui seterang kilat jalan mana novel itu harus lalui. Dan bahwa dua pertanyaan saya harus sebaliknya.
Can the past help the
present?
Can the dead save the living?
(Bisakah
masa silam membantu hari ini?
Bisakah
yang mati menyelamatkan yang hidup?)
Lantas,
saat saya sedang menulis apa yang akan menjadi Tindak Manusiawi (Human Acts), saya tergerak pada saat tertentu
yang masa silam sungguh membantu hari ini, dan yang kematian tengah
menyelamatkan yang hidup. Saya akan mengunjungi kembali pekuburan itu dari
waktu ke waktu, dan entah bagaimana cuacanya selalu terang. Saya akan menutup
sepasang mata, dan sinar jingga mentari akan menyaput pelupuk mata. Saya
merasakannya sebagai cahayanya hidup itu sendiri. Saya merasakan cahaya dan
udara membungkus dalam kehangatan yang tak terperi.
Pertanyaan
yang masih bersama saya lama seusai melihat buku foto itu yakni: seberapa
manusiawi kekerasan ini? Dan sekalipun demikian seberapa manusiawi hingga
mereka bisa secara serentak tegak menentang kekerasan yang merebak seperti itu?
Apakah artinya ia bagi makhluk tersebut manusia? Guna merundingkan suatu jalan
mustahil melewati ruang kosong antara dua ngarai dari kengerian manusia dan
martabat manusia ini, saya memerlukan pertolongan dari yang mati. Sama halnya
dalam novel ini, Tindak Manusiawi (Human
Acts), Dong-ho si bocah menyentak lengan ibunya guna mengajak ke arah
matahari.
Tentu
saja, saya tidak mampu mengembalikan apa yang telah dilakukan kepada yang mati,
kepada yang kehilangan, atau kepada yang sintas. Semua yang saya mampu lakukan
adalah meminjamkan mereka kepekaan, perasaan, dan detakan hidup lewat raga saya
sendiri. Berharap menyalakan sebatang lilin pada awal dan akhir dari novel
tersebut, saya menata adegan pembukaan di sasana olah raga kotamadya tempat
raga yang telah wafat disemayamkan dan upacara pemakaman dihelat. Di sana, kami
saksikan Dong-ho pria lima belas tahun meletakkan lembar putih ke atas jasad-jasad
dan menyalakan lilin-lilin. Dengan mengamati ke dalam jantung biru pucat dari
tiap lidah api.
Judul
bahasa Korea dari novel ini adalah Sonyeon-i
onda. Kata terakhir ‘onda’ merupakan bentuk waktu kini dari kata kerja
‘oda’, mendatangi (to come). Kala si sonyeon, bocah itu, dialamatkan dalam
pribadi kedua sebagai kau (you), apakah kau (you) yang akrab atau kurang akrab, ia terjaga dalam cahaya
suram dan melangkah ke arah masa kini. Langkahnya merupakan langkah dari roh.
Ia sesungguhnya menghela lebih dekat dan menjadi masa sekarang itu. Ketika
suatu masa dan loka yang di dalamnya
kebengisan dan martabat manusia mengada dalam kesejajaran tinggi (extreme parallel) dirujuk sebagai Gwangju, nama itu bisa raib menjadi
keunikan kata benda terhadap satu kota dan alih-alih menjadi sebuah kata benda
umum, sebagaimana saya pelajari dalam penulisan buku ini. Ia mendatangi kita—berulang-ulang
melintasi masa dan ruang, dan selalu dalam bentuk waktu kini. Bahkan sekarang.
*
Ketika
buku itu akhirnya lengkap dan diterbitkan pada musim semi tahun 2014, saya
dikejutkan oleh derita yang pembaca mengaku merasakannya selagi membacanya. Sekali
waktu saya harus memikirkan tentang bagaimana derita yang saya rasakan
sepanjang proses penulisan dan kesusahan yang pembaca ungkapkan kepada saya dihubungkan.
Apa yang mungkin di belakang duka tersebut? Adakah ia yang kita inginkan guna menaruh
kepercayaan atas kemanusiaan, dan saat kepercayaan tersebut tergoncang, kita
merasa seolah-olah diri kita yang sesungguhnya tengah dihancurkan? Adakah ia
yang kita ingin untuk mencintai kemanusiaan, dan inilah nyeri yang kita rasa
ketika cinta itu diremukkan? Apakah cinta mewariskan derita, dan adakah suatu
derita bukti dari cinta?
Di
tahun yang sama bulan Juni itu, saya mendapat satu impian. Sebuah mimpi yang di
dalamnya saya tengah melangkah melintasi dataran amat luas saat salju tipis
berguguran. Ribuan di atas ribuan tunggul pohon hitam menitiki dataran itu, dan
di belakang tiap yang terakhir dari titik-titik itu adalah sebuah gundukan
tanah kuburan. Di beberapa arah, saya sedang menjejakkan kaki di air, dan
ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat lautan menyerbu dari tepi dataran
itu, yang saya keliru cakrawala. Mengapa terdapat kuburan dalam sebuah tempat
seperti ini? Saya heran. Tidakkah akan semua tulang di makam lebih rendah yang
lebih dekat ke laut itu jadi lenyap tersapu? Tidakkah akan saya
setidak-tidaknya memindahkan belulang itu di gundukan lebih atas, sekarang,
sebelum benar-benar terlambat? Namun bagaimana? Saya bahkan tidak memiliki
sekop. Air itu sudah naik ke pergelangan kaki saya. Saya terbangun, dan saat
saya mengamati ke luar jendela gelap yang hening, saya memiliki suara hati
bahwa mimpi ini sedang mengatakan pada saya sesuatu yang penting. Usai saya
tuliskan mimpi itu, saya menarik pemikiran hal ini mungkin jadi awal dari novel
saya berikutnya.
Saya
tidak memiliki gagasan jelas tentang tempat ia mungkin memandu, bagaimana pun,
dan mendapati diri saya sendiri memulai dan menyisihkan permulaan dari sejumlah
kisah terpendam yang saya bayangkan mungkin mengikuti dari mimpi itu. Akhirnya,
pada Desember tahun 2017, saya menyewa sebuah kamar di Pulau Jeju dan
menghabiskan dua tahun berikutnya atau dengan demikian membagi waktu saya
antara Jeju dan Seoul. Dengan berjalan-jalan di hutan, sepanjang laut, dan di
jalan-jalan pedesaan, merasakan hebatnya cuaca Jeju pada tiap saat—angin dan
cahaya dan salju dan hujannya—saya memeka kerangka novel tersebut jadi terlihat
jelas. Sebagaimana dengan Tindak
Manusiawi (Human Acts), saya membaca kesaksian dari penyintas pembasmian,
menekuni bahannya, dan kemudian, dalam sebagaimana menahan suatu tata krama
sebisa saya tanpa berpaling dari rincian kekejaman yang terasa nyaris mustahil
untuk meletakkannya dalam kata-kata, saya menulis apa yang menjadi Kita Tidak Memisah (We Do Not Apart).
Buku itu diterbitkan hampir tujuh tahun usai saya bermimpi tentang tunggul
pohon hitam itu, gelombangan laut itu.
Di
buku catatan yang saya simpan selagi mengerjakan buku itu, saya membuat
catatan-catatan ini:
Life seeks to live. Life
is warm.
To die is to grow cold.
To have snow settle over one’s face rather than melt.
To kill is to make cold.
Humans in history and
humans in the cosmos.
The wind and the ocean
currents. The circular flow of water and air that
connects the entire
world. We are connected. I pray that we are connected.
(Kehidupan mencari hidup.
Kehidupan itu hangat.
Untuk mati adalah tumbuh
membeku. Untuk mendapati salju menetap di
atas wajah seorang
ketimbang meleleh.
Membunuh adalah membuat
beku.
Kemanusiaan dalam sejarah
dan kemanusiaan dalam jagat raya.
Angin dan arus lautan. Aliran
air memutar dan udara yang menghubungkan
seluruh dunia. Kita
terhubung. Kumohonkan agar kita terhubung.)
Novel
itu disusun dari tiga bagian. Jika bagian pertama merupakan suatu perjalanan
membumi yang mengikuti sang penutur, Kyungha, dari Seoul ke rumah Inseon temannya
di daerah pegunungan Jeju walau salju lebat mengarah ke burung peliharaan yang dia
bertugas menyelamatkan, kemudian bagian kedua mengikuti sebuah setapak menurun yang
memandu Kyungha dan Inseon jatuh kepada salah satu malam kemanusiaan tergelap—kepada
musim dingin tahun 1948 ketika orang-orang sipil di Jeju dibantai—dan memasuki
kedalaman samudra. Pada bagian ketiga dan terakhir, keduanya menyalakan
sebatang lilin di dasar laut itu.
Walau
novel itu ditarik maju oleh sepasang teman, sama halnya mereka bergiliran
menjaga lilin, protagonis sejatinya dan pribadi yang tertaut dengan baik
Kyungha maupun Inseon adalah ibunya Inseon, Jeongsim. Dia yang, karena sintas
dari pembunuhan besar di Jeju, berjuang untuk menemukan kembali bahkan sekeping
tulang dari seorang yang dia sayangi sehingga dia dapat mengadakan penguburan
yang pantas. Dia yang menolak untuk berhenti meratap. Dia yang memikul dera dan
tegak melawan lupa. Yang tidak berucap selamat jalan. Dengan mengikuti
kehidupannya, yang telah demikian lama mendidih oleh derita dan kasih sayang dari
suatu panas dan kepadatan yang seimbang, saya pikir pertanyaan-pertanyaan yang
sedang saya ajukan adalah ini: kepada tingkatan apa kita dapat mencintai? Di
mana batasan kita? Kepada derajat apa kita harus mencintai agar tetap manusiawi
hingga akhir?
*
Tiga
tahun berjalan sejak penerbitan edisi Korea dari Kita Tidak Memisah (We Do Not Apart), saya masih belum melengkapi
novel berikutnya. Dan buku yang saya bayangkan akan menyertai yang berikutnya
itu tengah menanti saya dalam waktu lama. Sebuah novel yang resminya bertalian
dengan Buku Putih (The White Book),
yang saya tulis dari sebuah permohonan untuk meminjamkan hidup saya, untuk
waktu singkat, kepada kakak perempuan saya yang meninggalkan dunia dua jam
belaka usai dia dilahirkan, dan juga mengintip pada bagian dari kami yang masih
tak bisa dihancurkan apa pun itu. Sebagaimana selalu, mustahil untuk meramalkan
kapan apa saja akan jadi lengkap, tetapi saya akan terus menulis, betapapun
lambatnya. Saya akan berlalu dari buku yang telah usai ditulis dan terus
berlanjut. Hingga saya tiba di tikungan dan mendapati mereka tidak lagi dalam
garis pandang. Sejauh jarak kehidupan saya memungkinkan.
Saat
saya beralih dari mereka, buku-buku saya akan melanjutkan hidup mereka mandiri
dari saya dan berjalan menurut takdir mereka sendiri. Sebagaimana akan dua
saudari itu, bersama-sama sepanjang waktu di dalam ambulans saat api kehijauan
berkobar-kobar di luar kaca depan. Sebagaimana akan wanita itu, untuk segera meraih
kembali kemampuan bicara, dengan menulis pada telapak tangan si lelaki menggunakan
jemarinya dalam keheningan, dalam gelap. Sebagaimana akan saudari saya yang terus
berlalu setelah hanya dua jam di dunia ini, dan ibu saya yang masih muda yang memohon
pada bayinya, “Jangan mati. Tolong, jangan mati,” hingga penghabisan. Sejauh
mana jiwa-jiwa itu akan pergi—jiwa yang tertampung ke dalam suatu binar jingga
matang di belakang kelopak tertutup sepasang mata saya, yang menyungkupi dalam
cahaya hangat tak terperi? Akan seberapa jauh lilin-lilin itu berjalan—lilin yang
dinyalakan di lapangan dari tiap pembunuhan, di setiap waktu dan ruang
terbaring sia-sia oleh kekerasan tak terduga, lilin yang ditegakkan orang-orang
yang bersumpah tidak pernah mengatakan pisah? Akankah mereka melaju dari sumbu
ke sumbu, dari hati ke hati, pada seuntai benang emas?
*
Pada
pamflet yang saya dapati dalam kotak sepatu tua bulan Januari terakhir, diri
masa silamku, tertulis di bulan April tahun 1979, telah menanyai dirinya
sendiri:
Where is love?
What is love?
(Di
manakah cinta itu?
Apakah
cinta itu?)
Padahal,
hingga musim rontok tahun 2021, ketika Kita
Tidak Memisah (We Do Not Apart) diterbitkan, saya telah menimbang dua
masalah ini sebagai persoalan inti saya:
Why is the world so
violent and painful?
And yet how can the world
be this beautiful?
(Mengapa
dunia demikian keras dan mendera?
Dan
meski begitu bagaimana bisa dunia seindah ini?)
Dalam
masa yang lama, saya meyakini bahwa ketegangan dan perjuangan dari dalam di
antara kalimat-kalimat ini merupakan dorongan tenaga di balik tulisan saya. Dari
novel pertama saya ke yang paling baru, pertanyaan yang telah saya simpan di
benak berlanjut untuk bergeser dan menghamparkan, sekalipun hanya ada dua yang
bertahan tetap. Namun, dua atau tiga tahun silam, saya mulai cemas. Sungguhkah
saya hanya mulai bertanya pada diri sendiri perihal cinta—perihal derita yang
menautkan kita—usai penerbitan bahasa Korea dari Tindak Manusiawi (Human Acts) di musim semi tahun 2014? Dari novel
paling awal saya ke yang terakhir, sudahkan lapis terdalam dari penyelidikan
saya selalu terarah menuju cinta? Dapatkah ia menjadi yang cinta pada
kenyataannya nada lirih dari kehidupan saya yang tertua dan mendasar?
Cinta
terletak dalam tempat tersendiri yang dinamakan “hatiku”, seorang bocah menulis
di bulan April 1979. (It is inside my
thump-thumping beating chest./ Ia berada di dalam degup debaran dadaku.)
Dan sebagaimana untuk apa cinta adanya, inilah jawaban bocah perempuan itu. (It is the gold thread connecting between
our hearts./ Ia adalah benang emas bersambungan antara hati kita.)
Ketika
saya menulis, saya menggunakan raga saya. Saya menggunakan segenap rincian
pancaindra atas tatapan, atas dengaran, atas bauan, atas cecapan, atas pengalaman
kelembutan dan kehangatan dan beku dan dera, atas ingatan hati saya yang
berpacu dan raga saya yang membutuhkan makanan dan air, atas langkah-langkah
dan berlari, atas merasakan angin dan hujan dan salju pada kulit saya, atas
genggaman tangan. Saya mencoba menyuntikkan kepekaan gamblang itu yang saya
rasakan sebagai makhluk hidup dengan darah mengarus sepanjang tubuhnya menuju
kalimat-kalimat saya. Seakan-akan saya menyemburkan arus listrik. Dan ketika
saya memahami arus ini tengah dipancarkan kepada si pembaca, saya tercengang
dan tergerak. Dalam sejenak saya mengalami lagi benang bahasa yang
menghubungkan kita, bagaimana pertanyaan saya berhubungan dengan pembaca lewat
sesuatu yang hidup, listrik itu. Saya hendak mengungkapkan syukur terdalam
kepada segenap orang yang berhubungan dengan saya melalui benang itu, juga
kepada segenap orang yang mungkin datang untuk melakukannya. (*)
(Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh E. Yaewon dan Paige Aniyah Morris. Dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Rudiana Ade Ginanjar. Sumber: https://www.nobelprize.org. Akses pada tanggal 11 Desember 2024. Hak cipta pada The Nobel Foundation 2024.)
Comments
Post a Comment