MERESAPI KEHIDUPAN SEHARI-HARI (Ulasan Buku)

 


Oleh: Rudiana Ade Ginanjar

 

SEBAGAI SEBUAH PUISI, buku Hujan Bulan Juni karya penyair kenamaan Sapardi Djoko Damono menunjukkan cara seorang penyair dalam menyikapi kehidupan sehari-hari. Bahasa keseharian bagi setiap penyair adalah juga pertanda dan sumber pemikiran. Seperti ritus dan tradisi, detak waktu tidak lantas menjadi membosankan dan terasa usang. Penyair adalah orang yang bisa membuat perbedaan. Ketika saat-saat siang yang hibuk dan tenggelam dalam kerja, penyair mendedahkan madah untuk merayakan bahasa hidup tersebut. Mereka tidak hidup semata untuk menyendiri, sebagai seorang pertapa, melainkan memberi dimensi pemahaman terhadap kejadian-kejadian. Ketika beberapa dari rekan sesama penyair memilih untuk terjun dalam bahasa kritik dan perlawanan, Sapardi Djoko Damono menawarkan cinta dan kearifan. Puisi menjadi bahan pertalian antara jiwa sang penyair dengan respon, empati, dan afeksinya terhadap pengalaman. Tak dipungkiri, diri seorang penyair juga bisa menjelma sesosok figur. Seperti seorang patriot, pemimpin kharismatik, atau juga pencinta yang nama-namanya lantas diabadikan dan beroleh anugerah—dalam upacara resmi atau dalam hati orang-orang. Sapardi Djoko Damono mengisi sosok tetua dalam gelanggang kepenyairan Indonesia kontemporer. Ditandai dengan puisinya yang memberikan sudut pandang baru kreativitas bersajak, karya-karya yang tergurat dari lengan sang penyair terhitung sublim dan lembut. Meski buku yang kita bicarakan kali ini merupakan hasil pemilahan atas beberapa buku antologi puisinya, sajak-sajak yang tersaring bisa menggambarkan perjalanan watak kepenyairan. Faktor pembaca memiliki peran lebih bagi Sapardi sendiri, mengingat ia cenderung memilih judul buku berdasarkan kegandrungan pembaca terhadap sajak-sajak terbaik yang mereka lagukan dalam bentuk musikal.

Proses alih wahana, demikian ia menyebut, dari teks ke musik telah membuat puisi Sapardi kian populer. Kolaborasi tersebut seolah mengingatkan lagi pada kita akan bentuk-bentuk sastra lisan meski bentuk deklamasi lebih terasa intens.

Jauh-jauh hari, puisi Sapardi Djoko Damono dikenal akan bahasanya yang sama sekali baru. Sebagai wujud kebebasan berpendapat yang mewarnai sastra semenjak era keemasan Chairil Anwar. Menyelami puisi Sapardi adalah mencoba mencari suatu hubungan, sebuah asosiasi, atas teks yang ia tawarkan. Dan dari kebanyakan sajak, Sapardi secara konstan mencari bentuk-bentuk tafsir kehidupan sehari-hari, yang dekat dalam kebiasaan hidup kita. Tentu, pandangan tersebut sebagian bersifat subjektif. Dari pengalaman seorang penyair, siapa pun bisa merasakan keterlibatan dalam aspek emosi. Sebuah cara yang menjadikan puisi sebagai bahasa universal. Puisi Sapardi seperti jam-jam yang senantiasa memancing rasa ingin tahu kita oleh tik-tok ritmis, bunyi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau mendengar. Membaca puisi berarti juga mempersiapkan hati kita untuk menerima gema lirih yang tak dihitung otak. Dan hal itu bukan suatu yang muskil. Setiap dialog—saya merasakan bentuk komunikasi dalam tiap sajaknya, menyinggung hal-hal biasa. Hujan menjadi peristiwa mengemuka tersebab judul buku. Peristiwa yang lumrah, bukan? Lewat puisi, Sapardi mengubah hujan menjadi makna kias. Tangkapan terhadap maksud tidak lantas menyulitkan sebab gaya bahasanya yang “logis”. Corak alamiah menjadi latar memukau di tangan para penyair lirik dengan sentuhan romantik. Dan tidak lantas menjadi sekadar dekorasi, alam adalah perlambang. Kita dapat menemukannya dalam “Di Beranda Waktu Hujan”: kenangan. Teguran yang terasa seperti tepukan di bahu yang mengejutkan kita tatkala hujan senja hari tiba dan bayangan silam bermunculan seperti rindu. Cinta dalam sajak tersebut diibaratkan “penghujan panjang, yang tak habis-habisnya....” (hlm. 47). Seperti pula doa, nyanyian, burung atau kupu-kupu. Citra-citra yang menggambarkan keindahan dan kebebasan. Perumpamaan tersebut memenuhi sebagian besar sajak Sapardi, dipandu oleh kepribadian yang reflektif dan sabar.

Permenungan dan Makna Hidup

Pengalaman akademik dan profesi menjadikan Sapardi Djoko Damono sebagai sosok dengan panutan nilai dan ideologi. Apakah cara pandang seorang penyair—atau tepatnya: bagaimana? Tidak jarang penyair menerima beban pertanyaan tersebut selaiknya ia adalah seorang penentu kebijakan. Saya percaya penyair-penyair alami dan mereka yang muncul oleh didikan memiliki perbedaan. Yang dilahirkan sebagai penyair membawa semangatnya seiring perjalanan hidup sedangkan mereka yang terbentuk mencari cara memperoleh ilham dan mengemukakannya. Tapi bahkan mereka yang “terpapar” bisa merasakan hikmah puisi. Dalam membicarakan beragam segi, Sapardi membawa kita sedikit lebih dewasa. Dalam perjalanan yang sempurna, seorang penyair mendapatkan keseluruhan yang dibutuhkan untuk bijak. Sapardi mencoba mengatakan bahwa perjalanan sederhana sekali pun dapat menjadikan kita seorang filosof, seorang dengan pandangan hidup yang memadai. Ia adalah penyair yang mengajak kita untuk meresapi kehidupan sehari-hari. Ia tidak menginginkan kita mempersoalkan sel dalam struktur tumbuhan melainkan “berkawan” dengan senja untuk menemukan makna setia (dalam sajak Lanskap), kematian yang niscaya bagi setiap yang hidup (Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati) atau keterasingan di tengah kota yang tak dikenal (Kartu Pos Bergambar: Taman Umum, New York). Gagasan-gagasan ideologis Sapardi terkadang pesimistik. Lebih banyak mencari bentuk-bentuk pasif atau menerima. Sebuah laku kepribadian masyarakat Jawa pada umumnya, nrimo. Dalam perihal religi, Sapardi memberi arah yang lebih humanis dan membumi: sebuah keluh atas keangkuhan. Bukankah agama mengajarkan tidak hanya apa yang ada di langit tapi juga apa yang ada di bumi? Dimensi kemanusiaan mengajak setiap penganjur ibadah untuk mawas diri dan rendah hati. Dan pada saat yang sama, agama memberi kemampuan akan sebuah harapan berlebih dan karenanya selalu dikenang. Perahu Kertas berkata lebih dari seorang bocah yang menemukan kembali keteladanan dan jiwa kepahlawanannya, sajak tersebut menciptakan asosiasi naratif yang mesti diletakkan dalam proporsinya. Bentuk serupa yang juga ia tulis dalam sajak Di Kebun Binatang, delapan tahun lebih awal. Pesan-pesan Sapardi berkelindan dalam kelaziman hidup, yang membuat seorang termenung agar menemukan daya kejut: sesuatu yang juga disebut A. Teeuw sebagai “inovasi yang sangat mengejutkan dalam segala kesederhanaannya”. Puisi-puisi Sapardi memang melahirkan kebaharuan kala itu. Jalan itu telah membuatnya berbeda semenjak kemunculannya. Menjadi Sapardi berarti membangun simplifikasi untuk mengurai gagasan yang rumit. Proses kreatif tersebut bukan berarti meletakkan lebih rendah suatu perihal agung. Singgungan-singgungan yang terbentuk mewakili upaya membangkitkan kembali (revival) atas teks-teks suci, tradisi budaya atau wejangan lampau yang kini bisa saja tergerus menjadi mitos. Dengan caranya, Sapardi ingin kita tetap menapak pada bumi.

Pandangan hidup Sapardi Djoko Damono tidak lepas dari jiwa masyarakat Jawa tempat ia dilahirkan. Sedangkan jalan pendidikan, menurut hemat saya, menjadi cara untuk mengenal dunia lebih luas. Toh, bekas-bekas tradisi atas keteladanan sikap warisan leluhur masih terasa. Sentuhan falsafah tersebut menjadikan puisi Sapardi tidak jatuh sebagai slogan atau orasi semata. Sementara banyak penyair sezaman yang berkutat dengan dimensi sosial, membawa sastra ke ranah politik demi tujuan-tujuan kemaslahatan, Sapardi tercenung sendirian merayakan nasib seorang lelaki miskin: “mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;/di luar hujan pun masih kudengar/dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring/di kursi, letih sekali” (Sajak Desember, hlm. 2). Meski menandai hubungan ketuhanan, sudut pandang Sapardi selalu tampak sepele. Seakan-akan hal-hal duniawi tak melepaskan sifat kudusnya sebagai garis yang telah ditentukan Tuhan. Dan watak kepasrahan dan keberterimaannya layak dipuji. Tahun-tahun yang menjadikan Sapardi tumbuh sebagai penyair barangkali dipenuhi gejolak sebagaimana Chairil Anwar sendiri. Keduanya adalah pionir. Kesusastraan Indonesia mendapat corak tersendiri di tangan mereka. Ketika Chairil Anwar menulis di bawah hujan peluru, Sapardi merenung di tengah hujan kesunyian. Dampak psikologis lebih kental dalam sajak Sapardi. Meski ekspresionisme Chairil Anwar yang membuka jalannya. Corak yang lebih dekat adalah Amir Hamzah, dengan pengecualian pada sosok kebangsawanannya. Sebab Sapardi lebih banyak berbicara sebagai khalayak. Benang yang mengikat ketiganya adalah cinta. Tidak diragukan lagi. Dan di masa Sapardi perasaan, salah satu semboyan kaum romantik, membaur dalam peristiwa keseharian.

Saat yang Tak Biasa

Sitor Situmorang pernah memiliki sebuah sajak yang menarik perhatian dalam “Malam Lebaran”. Dalam puisi Sapardi Djoko Damono keganjilan dihadirkan secara alami bukan sebab-sebab metaforik. Melihat Sapardi melakukan kerja sastrawinya seakan menjadi seorang yang duduk di bantaran sungai dan membiarkan arus berjalan semestinya. Logika dalam puisi Sapardi lebih pada hubungan kausalitas. Sebuah siklus. Dalam “Aku Ingin” pergerakan suatu proses menunjukkan makna yang dicari. Dan sikap pasif seorang pencinta mengarahkan pembaca pada saat yang tak biasa. Dari sana kemudian tebersit pertanyaan-pertanyaan. Ketika Goenawan Mohamad menunjukkan denyut intelektualitas dalam karya, Sapardi menyimpannya di relung tersembunyi. Keduanya memiliki nilai falsafahnya sendiri. Kita kemudian paham bahwa bahasa yang dibeberkan Sapardi jauh lebih mudah diterima. Ia seperti salah seorang sahabat penyihir Gandalf yang memilih bertempat di belantara sementara temannya asyik berpetualang melawan naga di Gunung Kesunyian bersama hobbit dan para kurcaci. Demikian halnya dalam “Hujan Bulan Juni”: tabah, bijak, dan arif adalah sifat-sifat yang dibentuk dari mereka yang mau belajar. Sejumlah kualitas kepribadian yang tak biasa dalam momentum yang, juga, tak wajar. Saya memilih kata ‘dibentuk’ untuk berterima kasih kepada V. S. Naipaul yang sekali waktu dalam bukunya, Tabib Sakti, mengatakan hal serupa soal tujuan pendidikan. 

Akhirnya, apakah penilaian atas sajak yang bertumpu pada peristiwa keseharian lantas gugur? Atau apakah saya tengah menciptakan suatu pernyataan paradoks? Di sini, kita perlu membedakan antara peristiwa (bentuk) dengan nilai (makna/isi). Sastra adalah medan pemahaman untuk mencari yang tersirat. Ketika realitas, kenyataan sehari-hari, dihadirkan dalam puisi ia menjelma realitas lain. Ia telah menjadi bagian dari suatu tafsir—tafsir si penyair atas pengalaman. Tugas pembaca adalah menemukan tanda-tanda itu. Dan bukankah kita pernah pula mendapati peristiwa keseharian yang tak wajar? Peristiwa-peristiwa langka itu seperti yang terjadi dalam puisi Sapardi. Dengan kesabarannya Sapardi menghendaki setiap orang untuk tak berhenti bertanya, sebagai langkah awal membentuk pandangan hidup. Hingga pada gilirannya memberikan buah renungan tersebut sebagai pedoman bagi generasi berikutnya: anak cucu kehidupan. (*)




Identitas Buku

Judul               : Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak

Penulis             : SAPARDI DJOKO DAMONO

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan           : Cet. VI, Desember 2015

Tebal               : xi + 120 hlm.; 14 x 21 cm

ISBN               : 978-979-22-9706-5










Comments

Popular posts from this blog

CAHAYA DAN BENANG: Bagian 1 (Han Kang)

JAUH DARI PALESTINA

KISAH PARA HERO