MALAIKAT, MANUSIA, DAN HARAPAN (I)/Laszlo Krasznahorkai
Yang terhormat, Bapak dan Ibu
sekalian!
Pada
penerimaan Hadiah Nobel Kesusastraan 2025, saya semula berharap membagi
pemikiran-pemikiran saya pada kalian mengenai harapan, tetapi selagi bekal
harapan saya secara pasti telah berakhir, sekarang saya akan berbicara
perihal malaikat.
I.
Saya
melangkah hilir mudik dan sedang berpikir tentang malaikat, kini pun sedang berjalan
hilir mudik, jangan percayai mata kalian—mungkin tampak bagi kalian saya sedang
berdiri di sini dan berbicara pada mikrofon, tapi tidak, pada kenyataannya saya
sedang berkeliling, dari satu sudut ke sudut lainnya, dan kembali lagi dari
tempat saya memulai, dan seterusnya dan sebagainya, berkeliling, dan ya, saya
sedang berpikir tentang malaikat; para malaikat, dan mendadak bisa menguak
inilah jenis baru malaikat, inilah malaikat yang tanpa sayap-sayap, dan jadi,
sebagai misal, tidak terdapat kebutuhan untuk merenungkan tentang bagaimana,
jika sepasang sayap itu dicuatkan dari punggungnya para malaikat ini, sungguh-sungguh,
jika sepasang sayap amat lebar ini dibentangkan dengan demikian berat bahkan di
luar jubah para malaikat, lantas jenis pekerjaan seperti apa yang penjahit
surgawi mereka juga sedang lakukan, jenis pengetahuan tak terketahui apa yang melayang
masuk ke lokakaryanya di atas sana ketika ia sedang mengenakan pakaian untuk
mereka; sepasang sayap itu berada di sisi luar, tentu, sayap-sayap itu berada
di sisi luar dari tubuh yang tak mewujud itu, tapi lantas ke mana sebenarnya
mereka menempatkan sayap-sayap itu di sisi luar dari raga yang tak mewujud itu,
jubah yang membalut mereka dengan manisnya dan yang juga menutupi sayap-sayap
mereka, atau, sebaliknya, seandainya sayap-sayap mereka tidak tercuat, lantas
bagaimana jubah surgawi ini menutup tubuh mereka bersamaan dengan sayap itu,
oh, malangnya Botticelli,[1] malangnya Leonardo,[2] malangnya Michelangelo,[3] sungguh malang Giotto[4]
dan Fra Angelico![5] tetapi itu bukanlah soal
sekarang, pertanyaan ini telah menguap bersama si malaikat tua, malaikat yang
sedang saya katakan adalah malaikat baru, yang makin terang selagi saya mulai
melangkah mondar-mandir mengelilingi kamar yang padanya kalian sekarang hanya
bisa melihat bahwa saya berdiri di hadapan mikrofon saat saya mengumumkan, sebagai
si penerima Hadiah Nobel Kesusastraan tahun ini, bahwa saya ingin bercakap
tentang harapan, tapi saya tidak ingin bercakap tentang hal itu sekarang, maka
malahan saya akan bercakap tentang malaikat, saya akan mulai dari titik itu,
dan sudah ada di sana kontur berkabut yang terbentuk dalam otak saya selagi
saya menyusun tugas, dengan menganggapnya suatu sikap semadi dalam ruang kerja
saya yang tidak terlalu selesa, seluruhnya empat kali empat meter dalam suatu
kamar menjulang yang darinya daerah tangga memandu naik dan turun ke lantai
dasar perlu dikurangi, tentu saja kalian tidak akan digambarkan sejenis menara
gading romantis, kamar menjulang ini, dibangun dari papan cemara (spruce)
Norwegia termurah dan terletak di sudut sisi kanan dari bangunan kayu satu
tingkat, meninggi di atas segalanya yang lain karena garis bidang tanah saya
berada di atas suatu tanjakan, karena seluruh hal berdiri pada pucuk bukit itu,
yaitu keseluruhan bidang tanah berada pada sebuah lereng dan menanjak, selain
itu, menanjak sangat ke arah sebuah lembah yang berarti selagi saya
berharap untuk membangun tambahan yang sangat dibutuhkan untuk tanahnya kamar dasar,
yaitu saya ingin hal ini sebagaimana buku merangsek untuk mendaku setiap ruang,
kemudian, usai rentang waktu tertentu tugas ini menjadi mustahil menunda, dan
tersebab tanjakan ini, kamar yang dibangun sebagai tambahan itu telah muncul
seperti sebuah menara di atas tingkat lebih rendah, dengan membungkuk di
atasnya, baiklah, di sini saya semata hendak berbicara tentang malaikat,
dan
bukan tentang harapan,
dan
bukan tentang yang tua, yaitu malaikat tua, karena yang tua, yang bersayap—memikirkan
yang paling masyhur dari mereka dalam lukisan Annunciation[6]
(Maklumat), dihasilkan dalam jumlah tak terhitung sepanjang Zaman Pertengahan
dan Renaisans—sedang membawa suatu pesan, suatu pesan bahwa Seorang yang Dilahirkan
akan lahir; inilah malaikat tua, para kurir surgawi ini terus-menerus datang
dengan hal ini atau sejumlah pesan yang lain, dan berdasarkan pada penemuan dari
ilmu malaikat (angelology), sebagian besarnya mereka menyampaikan pesan
ini kepada pemilik alamat secara lisan, atau, sebagaimana terlihat dalam
lukisan berasal dari abad ke-IX dan ke-X, mereka membaca secara langsung dari
secarik kertas berombak, sebuah kalimat-pita, dalam penggambaran yang kata
diganjar arti luar biasa; tetapi malaikat-malaikat ini, bahkan selagi memenuhi
misi yang lain, masih menyampaikan—lebih tepatnya, mereka menyampaikan—pesan
dari Yang di Atas itu kepada yang dipilihnya, kata itu terselubung dalam cahaya
atau terbisik ke dalam telinga, berarti bahwa, tanpa menghiraukan penggambaran
ini, malaikat-malaikat ini tidak dapat sungguh-sungguh dikenal dari
pesannya—lebih tepatnya, mereka tidak bisa dikenal dari pesan mereka—demikian
banyak sehingga kita sebetulnya akan berkata para malaikat tua ini adalah
pesan-pesan itu sendiri, mereka itu sendirilah pesannya yang selalu datang dari
Dia Yang Tidak Dapat Dimohonkan, Ia mengirim mereka, Ia mengirim para malaikat bagi
kita, kita yang berjuang dalam debu, kita yang mengembara, dikutuk Sebab-Akibat
yang Tak Teramalkan/oh, masa-masa yang indah itu/singkatnya, tiap malaikat tua
merupakan sebuah pesan dari seseorang lainnya ke seseorang lainnya, sebuah
pesan yang mengikuti sifat dari suatu perintah atau laporan, tetapi saya tidak
meniatkan untuk mengangkat urusan ini di sini dengan berdiri di hadapan kalian
selagi hilir mudik mengelilingi kamar tinggi menjulang yang, sebagaimana kalian
telah tahu, dirancang dari papan cemara Norwegia murah dan hampir mustahil
kepanasan, dan yang menjulang melulu tersebab tanjakan curam dari bidang
tanahnya, nah, saya tidak akan bercakap-cakap tentang yang tua, bahkan jika
gambar yang hidup dalam diri kita—berkat kecerdikan Zaman Pertengahan dan
periode modern awal, dari Giotto ke Giotto—bahkan jika malaikat tua ini, bersama
julukan menawan, mulia, dan akrab mereka yang sesuai, bahkan jika mereka masih
bisa menyentuh jiwa kita kapan saja, bahkan sekarang, bahkan jika mereka bisa
menyentuh jiwa kita yang tak sanggup meyakini, karena sungguh pasti mereka
satu-satunya malaikat, yang, sepanjang abad-abad, tersebab kemunculan mereka
yang jarang, membolehkan kita untuk mendeduksi keberadaan Surga, dan dengan itu
kita juga bisa mendeduksi arahan bahwa tercipta dalam diri kita tatanan semesta
sebagai suatu arahan, karena di mana terdapat arahan terdapat jarak, yaitu
terdapat ruang, dan di mana terdapat arahan akan hadir juga suatu jarak antara
dua titik, yaitu terdapat waktu, dan terdapat, sesuai dengan itu, selama
berabad-abad sekarang—oh! Dan selama bermilenium!—dunia yang diyakini dicipta, tempat
pertemuan ini dengan mereka, dengan para malaikat tua ini, memberi kita suatu
jalan untuk memahami dengan meyakinkan yang di atas dan di bawah serupa sesuatu
yang tulen dan sejati, dan kemudian jika saya ingin bercakap kepada kalian
tentang malaikat tua saya akan berkeliling melingkar dalam satu sudut, lantas
berbelok kembali menuju sudut yang sama, tapi tidak, malaikat tua tidak ada
lagi, hanya terdapat yang baru, dan sebagaimana untuk saya sendiri, saya tidak
berkeliling melingkar dari satu sudut kembali ke sudut yang sama dengan
berpikir tentang mereka selagi saya berdiri di sini dalam kehadiran atas
perhatian kalian, karena, sebagaimana saya barangkali telah menyebutkannya,
malaikat
kita adalah yang baru ini,
dan,
karena hilang sayap, mereka tidak lagi memiliki hak atas jubah-jubah itu yang melilit
lembut di sekitar mereka, mereka berjalan di antara kita dalam busana jalanan
sederhana, kita tidak mengetahui berapa banyak mereka, tapi berdasarkan pada
semacam kesan kabur jumlah mereka tetap tidak berubah, dan, seperti halnya
malaikat tua di waktu dahulu, yang baru ini dengan begitu gaib tiba entah
bagaimana di sana-sini, mereka muncul di hadapan kita pada sejenis situasi yang
sama dalam kehidupan kita seperti halnya yang tua, dan sebagaimana soal
kenyataan mudah mengenali apakah mereka meminta kita, apakah mereka tidak
sedang menyembunyikan apa yang mereka pikul dalam diri mereka, mudah karena
seakan-akan mereka sedang menapak ke keberadaan kita bersama suatu jenis lain
tempo, suatu irama lain, suatu lantunan berbeda daripada yang kita jalani, kita
yang sedang bersusah payah dan mengembara kian kemari dalam debu datang ke
sini, tambahannya kita juga tidak dapat demikian yakin malaikat baru ini tiba
dari suatu tempat di atas sana, karena bahkan tidak tampak seolah-olah akan ada
“ke atas sana” lagi, seolah-olah juga—bersama-sama malaikat tua—telah
menyerahkan tempatnya kepada ANTAH-BERANTAH abadi tempat sekarang hanyalah
kerangka di luar nalar si Elon Musks atas pengaturan ruang dan waktu dunia ini,
dan dari hal ini mungkin timbul yang selagi kalian dengan tak berubah
menyaksikan dan mendengar semata seorang lelaki tua di hadapan kalian, dengan
berbicara dalam bahasanya sendiri yang tidak dikenal pada kejadian penerimaan
Hadiah Nobel Kesusastraannya, seorang lelaki tua yang tentu saja mondar-mandir
tak berubah dan tepat di dalam kamar menjulang yang tak mungkin kepanasan yang
sama itu juga, di antara papan cemara Norwegia, bolak-balik mengitari, yaitu
adalah diri saya sendiri, seorang yang sekarang mempercepat hilir mudiknya seakan-akan dengan berharap
mengungkapkan bahwa pikirannya berkenaan dengan malaikat baru ini
mempersyaratkan suatu jenis berbeda jejakan dan suatu jenis berbeda percepatan
dari seorang yang sedang berpikir tentang mereka, dan betul-betul, sekarang
selagi saya mempercepat langkah kaki, saya mendadak sadar sungguh tidak hanya
malaikat baru ini tak memiliki sayap, melainkan mereka juga tidak memiliki
pesan, tidak seorang apa pun itu, mereka semata di sini di antara kita dalam
busana jalanan sederhana, tak dikenali apakah mereka demikian berharap, tapi apakah
mereka sungguh berharap dikenal, lantas mereka memilih satu di antara kita, melangkahi,
dan kemudian tiba-tiba, dalam suatu jenak tunggal (single moment), bular
mata jatuh dari mata kita, tanda peringatan berkurang dari hati kita, yaitu suatu
perhadapan berlangsung, kita berdiri di sana terguncang, waduh, ia seorang
malaikat, mereka sedang berdiri di sini di hadapan kita, hanya saja … mereka
tidak memberi kita apa-apa, tidak terdapat sejenis kalimat yang bergulung-gulung
di sekitar mereka, tidak terdapat cahaya yang bersamanya mereka bisa berbisik
ke telinga kita, yaitu mereka tidak berbicara sepatah kata, seakan-akan mereka telah
jadi bisu, mereka hanya berdiri di sana dan memandangi kita, mereka tengah
menyusuri tatapan kita, dan dalam penelusuran ini terdapat suatu permohonan
kepada kita untuk menatap mata mereka, sedemikian rupa sehingga
diri
kita sendiri
bisa
memindahkan suatu pesan kepada mereka, kecuali dengan ketidakberuntungan, kita
tidak memiliki pesan untuk diberikan, karena kita hanya bisa berkata sebagai
tanggapan ke pandangan yang memelas itu apa yang telah diucapkan sebagai
tanggapan dulu kala, ketika masih terdapat sebuah pertanyaan, meskipun sekarang
tidak terdapat entah pertanyaan atau jawaban, sehingga baiklah, jenis perhadapan
apakah ini, jenis adegan surgawi dan duniawi apakah ini, mereka baru berdiri di
sana di hadapan kita, memandangi kita, dan kita juga baru berdiri di sana
memandangi mereka, dan apakah mereka mengerti apa saja dari seluruh hal ini,
kita tentu tidak mengerti apa yang sedang terjadi, si bisu ke si tuli, si tuli
ke si bisu, bagaimana bisa terdapat suatu percakapan dari hal ini, bagaimana
bisa terdapat suatu pemahaman, bahkan tidak untuk berbicara tentang kehadiran
ilahiah, ketika mendadak akan terjadi pada tiap pribadi sunyi, letih, nelangsa
dan peka, sebagaimana terjadi sekarang ini—jika saya boleh menganggap saya
sendiri di antara kalian—akan terjadi pada saya, saya yang tampaknya berdiri di
sini di hadapan kalian dengan berbicara pada mikrofon, tetapi yang dalam
kenyataannya di atas sana dalam kamar menara, sebagaimana kalian tahu, di
antara papan cemara Norwegia murah dan pengurungan diri yang memalukan, kesadaran
datang bahwa malaikat baru ini dalam kebisuan tanpa batas barangkali bahkan
bukan lagi malaikat, melainkan korban, korban pada mulanya, pemahaman kudus
kata itu, dengan cepat saya merenggut stetoskop, karena saya selalu membawanya,
dan saya memilikinya sekarang pula, selagi saya berbicara dari kamar menara
tersebut, berkeliling mondar-mandir, dan dengan sangat lembut saya menempatkan diafragma
dan lonceng ke semua dada kalian, dan mendadak saya mendengar suaranya takdir,
saya mendengar takdir kalian, dan bersama hal ini saya menapak melintasi suatu
takdir sesungguhnya, saya merasakan suatu denyutan takdir sesungguhnya yang
mendadak mengubah wujud jenak ini, tetapi sebagian besar jenak berikutnya yang
akan berdiri di hadapan saya, karena tidak ada, jenak yang tampak kemungkinan
besar mengikuti bukanlah jenak yang mengikuti, jenak yang sepenuhnya berbeda
mengikuti, jenak akan guncangan dan runtuhan roboh menimpa saya, karena
stetoskop saya mencium adanya kisah mengagetkan dari para malaikat baru ini
yang berdiri di hadapan saya, kisah bahwa mereka adalah korban, berkorban: dan
bukan untuk kita, melainkan tersebab kita, untuk tiap satu orang dari kita,
tersebab tiap satu orang dari kita, malaikat tanpa sayap dan malaikat tanpa
suatu pesan, dan terus-menerus tahu terdapat perang, perang dan hanya perang,
perang di alam, perang dalam masyarakat, dan perang ini sedang diupah tidak
hanya dengan senjata, tidak hanya dengan siksa, tidak hanya dengan kehancuran: tentu
saja, inilah satu yang terakhir dari skala itu, tapi perang ini berjalan pada
sisi berlawan dari skala itu juga, karena satu kata buruk tunggal sudah cukup,
satu kata buruk tunggal dilambungkan ke arah salah satu dari malaikat baru ini,
satu tindakan tak adil, sembarangan, tak bermartabat sudah cukup, satu luka
tunggal tubuh dan jiwa, karena ketika mereka lahir tidak dimaksudkan untuk hal
ini, mereka pasrah pada wajah hal ini, pasrah melawan penindasan, pasrah
melawan kekejian, pada wajah kebengisan sinis melawan kejinakan dan kemurnian
mereka, hanya satu perbuatan sudah cukup, tapi bahkan satu kata buruk cukup
bagi mereka untuk terluka dalam segenap keabadian—yang saya tidak bisa
menyembuhkan dengan bahkan sepuluh ribu kata, karena ia di luar segenap
penyembuhan.
...
(Judul dari penerjemah. Teks asli berbahasa Inggris dari pidato tersebut tanpa judul. Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Ottilie Mulzet dan dialih-bahasakan ke Bahasa Indonesia oleh Rudiana Ade Ginanjar. Sumber: https://www.nobelprize.org, diakses pada 08 Desember 2025.)
[1]
Kemungkinan yang dimaksud adalah Sandro Botticellli (c. 1445-1510), seorang pelukis Italia pada masa Awal
Renaisans.
[2] Leonardo da Vinci (1452-1519),
seorang polymath dari Italia. Hidup pada masa keagungan Renaisans.
[3] Seorang seniman Italia.
Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (1475-1564) menguasai seni rupa,
patung, puisi, dan arsitektur.
[4]
Giotto di Bondone (c. 1267-1337), pelukis dan arsitek dari Italia. Hidup pada Abad Pertengahan Akhir.
[5] Fra Giovanni da Fiesole (c.
1395-1455), seorang rahib dan pelukis Italia. Berkiprah sepanjang masa
Renaisans Florentina Awal.
[6] Dalam seni Kristiani, lukisan tersebut menggambarkan kesucian abadi Maryam dan yang kelak akan dikaruniai seorang putra. Figur utama dalam lukisan-lukisan ini adalah Sang Perawan Suci dan Malaikat Jibril.
Comments
Post a Comment