MANUSIA, MALAIKAT, DAN HARAPAN (II)/Lazslo Krazsnahorkai
II.
Ah, cukup soal malaikat!
Alih-alih mari kita bicara tentang martabat manusia.
Makhluk manusia—ciptaan yang mengherankan—siapakah kalian?
Kalian menemukan roda, kalian menemukan api, kalian menyadari kerja sama merupakan alat satu-satunya untuk sintas, kalian menemukan necrophagy[1] sehingga kalian bisa menjadi tuan dari dunia ini di bawah perintah kalian, kalian memperoleh kepandaian tinggi yang mengguncang, dan otak kalian demikian besar, banyak kerutan dan begitu rumit yang sungguh-sungguh, berkat otak ini, kalian mendapat kekuasaan, walakin agak terbatas, atas dunia ini yang dinamai juga oleh kalian, dengan memandu kalian ke semacam pengakuan atas yang kemudian ternyata mereka tidaklah benar, tetapi mereka menolong kalian untuk maju dalam rangkaian evolusi kalian; perkembangan kalian, mendesak ke depan tampaknya lewat lompatan dan ikatan, menguatkan jenis kalian di Bumi dan menyebabkannya tumbuh, kalian terhimpun bersama-sama dalam kelompok, kalian membangun masyarakat, kalian mencipta peradaban, kalian juga menjadi sanggup atas keajaiban untuk tidak sekarat, walaupun hal itu mungkin dihidupkan juga, tetapi sekali lagi kalian berdiri di atas sepasang kaki kalian sendiri, lantas, sebagaimana homo habilis,[2] kalian membuat perkakas dari batu, dan kalian tahu cara menggunakannya pula, lantas sebagai homo erectus,[3] kalian menemukan api, dan kemudian tersebab satu rincian kecil—berlawanan dengan simpanse, laring dan palatal lunak kalian tidak menyentuh—menjadi mungkin bagi kalian untuk membawa bahasa mengada, sejajar dengan perkembangan dari pusat wicara otak; kalian duduk bersama Penguasa Surgawi, jika kita bisa meyakini pasase bungkam dari Perjanjian Lama, kalian duduk bersama-Nya, dan kalian menamai pada segala benda ciptaan yang Tuhan tunjukkan, lantas kalian kemudian menemukan tulisan, tapi sejak sekarang kalian telah mampu atas jalan pemikiran filosofis, mulanya kalian menghubungkan peristiwa-peristiwa, lantas kalian memisahkan mereka dari kepercayaan agama kalian; dengan merujuk pada pengalaman kalian sendiri, kalian menemukan waktu, kalian membangun kendaraan, dan perahu, kalian mengembara melintasi yang Tak Terketahui di Bumi ini, merampas segala yang bisa dirampas, kalian menyadari apa yang berarti menghimpun kekuatan kalian dan kekuasaan kalian, kalian merencanakan planet-planet jadi lebih bisa didekati, dan dari sekarang kalian tidak lagi memandang Mentari sebagai Dewa dan bintang-bintang sebagai penentu nasib, kalian menemukan, atau agak mengutak-atik perkelaminan, peranan lelaki dan perempuan, dan yang sangat terlambat, walau tidak pernah terlalu lambat, kalian mendapati cinta bagi mereka, kalian menemukan perasaan, tenggang rasa, berbedanya jenjang dari kemahiran pengetahuan, dan akhirnya kalian terbang ke angkasa luar, meninggalkan burung-burung, lantas kalian membubung ke Bulan, dan kalian menjejakkan langkah pertama di sana, kalian menemukan sejenis senjata yang bisa meladakkan seluruh Bumi berulang kali, dan lantas kalian menemukan ilmu pengetahuan dalam semacam tata cara lentur berkat yang hari esok lebih diutamakan daripada dan memalukan apa yang hanya bisa dibayangkan hari ini, dan kalian menciptakan seni dari gambar di gua sampai ke “Last Supper”-nya Leonardo,[4] dari kegelapan irama magis yang memikat sampai ke Johann Sebastian Bach,[5] akhirnya, memenuhi kemajuan sejarah, kalian, dengan kemendadakan sempurna dan sama sekali, mulai meyakini ketiadaan pada segalanya lagi, dan, berkat piranti yang kalian sendiri telah temukan, dengan menghancurkan daya khayali, kalian adalah remah-remah dengan hanya kenangan jangka pendek kini, hatta kalian telah menyerahkan kemuliaan dan kepemilikan umum atas pengetahuan dan keindahan dan kebajikan akhlak, dan sekarang kalian telah siap berpindah menuju tanah datar, tempat kedua tungkai kalian akan terbenam, jangan bergerak, kalian akan ke Mars? Alih-alih: jangan bergerak, karena lumpur ini akan menelan kalian, akan menarik kalian ke dalam rawa-rawa, meski indah, jalur kalian melewati evolusi mendebarkan, hanya, sayangnya: tak bisa diulang.
III.
Oh, cukup perihal martabat manusia.
Mari bercakap-cakap tentang pemberontakan sebagai gantinya.
Saya coba menyentuh pada hal ini dalam buku saya The World Goes On, tapi selagi saya merasa kecewa dengan apa yang telah saya tulis, saya akan coba kembali. Pada permulaan tahun 1990-an, pada suatu sore yang lengas, becek, saya sedang berada di Berlin,[6] menunggu di salah satu dari pemberhentian U-Bahn[7] di bawah tanah. Peronnya, seperti di mana saja dalam cara kerja U-Bahn, telah disiapkan sedemikian rupa sehingga pada titik permulaan dari jurusan perjalanan yang sesuai, cuma beberapa meter dari tempat kereta itu melanjutkan lintasannya lewat lorong, terdapat sebuah cermin besar menjulang dilengkapi dengan lampu rambu, sebagiannya untuk membantu kondektur mengamati penjang keseluruhan kereta dan sebagiannya untuk menandai secara saksama tempat, ketelitiannya hingga sentimeter, bagian depan kereta harus mandek, sementara, sembari para penumpang turun dan naik, setelah sampai. Cermin tersebut tentunya untuk pengemudi kereta, sembari lampu merah menandakan titik itu tegak lurus terhadap lintasan tempat masinis harus berhenti agar para penumpang naik dan mendarat dengan aman, pada jenak yang inilah, yaitu lampu, angkat sauh dan lepas jangkar jadi lengkap, berubah hijau dan U-Bahn bisa melanjutkan perjalanannya melalui lorong itu—dalam kejadian saya, ke arah Ruhleben.[8] Terlepas dari suatu rambu peringatan akan perlunya menghindari kecelakaan dan kepatuhan aturan, sebuah garis kuning tebal, sangat kasatmata, telah dilukis ke landasan di antara kolom yang menghasilkan lampu rambu dan pintu masuk lorong itu, garis kuning tersebut bermanfaat untuk menandai bahwa bahkan jika peron itu terus maju dalam beberapa meter lagi, saat hal itu terjadi, para pejalan harus tidak menjejakkan kaki melintasi garis kuning ini di bawah keadaan apa pun sedemikian rupa sehingga di sini—sebagaimana di tiap stasiun—terdapat suatu zona larangan keras di sela-sela garis kuning ini dan pintu masuk lorong itu tempat seseorang, yakni seorang pejalan, harusnya tidak, di bawah keadaan apa pun memasang kaki. Saya menanti kereta yang tiba dari jurusan Kreuzberg,[9] dan mendadak saya perhatikan terdapat seseorang di zona larangan tersebut. Seorang gelandangan, yang—punggungnya bungkuk menderita, raut mukanya, dalam deraan ini, perlahan menoleh ke arah kami, seperti seseorang yang mengharap belas kasih—sedang mencoba kencing pada gang di atas lintasan. Bisa terlihat bahwa kencing inilah yang menyebabkannya banyak menderita, sebagaimana ia hanya dapat membebaskan diri dari derita itu setetes demi setetes. Pada saat itu saya telah sadar sepenuhnya apa yang sedang terjadi di sini, orang-orang di sekeliling saya telah juga memperhatikan sejenis kecelakaan ganjil sekarang sedang mengusik senja bagi kami. Tiba-tiba dan merampat, hampir terang-benderang, suatu pendapat bulat dibentuk bahwa ini adalah suatu skandal, dan skandal tersebut harus diakhiri seketika, gelandangan ini harus enyah, dan keabsahan garis kuning tebal itu harus ditegakkan kembali. Akan tidak terdapat suatu masalah andai gelandangan itu telah mampu menyelesaikan pekerjaannya, menepi kembali di antara kami, lantas mendaki undakan menuju tingkat atas, tetapi gelandangan ini tidak menyelesaikannya, barangkali karena ia tidak mampu menyelesaikan, dan apa yang membawa peristiwa ini bahkan jadi lebih menyusahkan yaitu pada peron berlawanan mendadak muncul seorang polisi yang, dengan menyeru dari sana, hampir bertumbukan mata dengan si gelandangan, dengan penuh tekad menunjuk si pelanggar, berkata padanya tiba-tiba untuk menyurutkan apa yang sedang ia perbuat. Stasiun U-Bahn ini—sekali lagi, demi keamanan—dibangun sedemikian rupa sehingga kereta yang bergerak dalam arah berlawanan, yang tiba pada suatu pemberhentian tertentu dan kemudian terus maju, dipisahkan satu dari lainnya, yaitu dua rangkaian jalur kereta didudukkan dalam suatu parit kira-kira selebar 10 meter dan hampir satu meter dalamnya, sedemikian rupa sehingga jika seorang penumpang yang akan memikirkan ulang perjalanannya, berharap berangkat dari sebuah peron yang melayani kereta tiba dalam satu jurusan ke peron lainnya tempat kereta itu ditujukan ke jurusan lainnya, lantas penumpang tersebut hanya bisa melakukannya dengan berjalan ke arah tangga di ujung peron, mendaki anak tangga itu ke tingkat yang lebih tinggi, berjalan-jalan menyeberangi lorong di atas lintasan berakhir ke sisi yang lain, lalu menuruni anak tangga itu, dan hanya dalam cara ini ia bisa mencapai peron dari kereta yang melaju dalam jurusan yang ia inginkan tiba-tiba itu, sedangkan tentunya ia tidak pernah bisa dengan sederhana memilih sendiri, melompati ke parit dengan dua rangkaian lintasannya, dan melewati sepuluh meter itu dengan berjalan menyeberangi lintasan, tidak, hal ini, seandainya mungkin untuk membeda-bedakan derajat larangan, bahkan lebih terlarang, sebagaimana seperti maujud, tentu saja, ancaman hidup, dan saya ungkapkan kebenaran nyata ini sungguh secara rinci, karena yang tersebut di atas itu dan kasatmata membuat geram polisi—dengan menjaga sesuatu dari gengsinya, meski menggunakan amanat dan kebajikannya—pasti harus menggunakan jalur yang sama, yakni ia harus menuju ke arah anak tangga yang memandu ke gang di tingkat atas pada peron lain, lantas, dengan mendaki anak tangga ini, ia harus berlari mencapai sisi ini dan menuruni undakan, akhirnya tiba ke tempat kami sedang berdiri.
Ini merupakan panutan, karena mengharuskan polisi itu mengikutinya juga, karena dari jenak itu ia memperhatikan gelandangan tersebut, ia berteriak keras beberapa kali dari karena gemanya sendiri, suara tinggi, tapi dengan tiada guna saat si gelandangan tidak memperhatikan si polisi, kepalanya masih menoleh ke arah kami, memandangi kami dengan suatu pandangan tidak berubah mencerminkan siksaannya, selagi tetes air kencing terus berjatuhan pada lintasan; sungguh-sungguh, suatu penghinaan yang tiada banding terhadap peraturan, terhadap tatanan, terhadap hukum dan akal sehat, yakni bahwa gelandangan ini tidak mengindahkan si polisi, dan, memakai suatu ungkapan yang si polisi itu sendiri mungkin akan gunakan: ia bertingkah seakan-akan tuli, menyebabkan si polisi ini merasakan dera tertentu.
Tentu saja, si gelandangan telah menyertakan si polisi dalam perhitungannya, yang tersebab keuntungan deritanya, si polisi akan lebih cepat daripada ia sendiri, dan bahwa ia sama sekali tidak bisa—entah oleh keinginannya sendiri atau kehendak alam—membawa tindakan terlarang ini ke suatu akhir waktu, oleh karena itu, ketika ia memperhatikan bahwa si polisi buru-buru, sungguh-sungguh mulai berlari pada peron lainnya untuk mencapai tingkat atas yang masih jauh di ujung anak tangga, melesat menyeberang di atas lintasan itu, lantas berlari turun ke sini ke sisi kami, dan menjewer gelandangan ini, si gelandangan, mengeluh, bersama kesulitan yang amat hebat, menyudahi apa yang sedang dilakukan, dan mencoba meloloskan diri ke jurusan kami agar meraih anak tangga terdekat menuju ke atas sesegera mungkin, dan kemudian entah bagaimana raib.
Perlombaan yang mendebarkan. Setiap orang yang berdiri di peron kami merasakan kebisuan sepenuhnya selagi si gelandangan berangkat, karena mendadak jelas terlihat pelarian ini akan memandu ke ketiadaan, karena si gelandangan tua mulai menggigil sekujur tubuhnya; kakinya dan otaknya yang menuntun sepasang kaki itu tampaknya tidak lagi bekerja semestinya, sedemikian rupa sehingga sembari ia mengamati si polisi di sisi lainnya sedang mencoba mencapai gang atas—meter demi meter!—si gelandangan, di peron kami, hanya bisa maju senti demi senti dan hanya melewati ketegangan mendebarkan, pukulan lengan, sembari si polisi pun, ia pun menatap pada sepuluh meter itu yang memisahkan mereka. Sepuluh meter ini menandai suatu siksa berat bagi si polisi, suatu yang tak semestinya, perintangan hukum, sedangkan pada sisi kami, sepuluh meter yang sama ini berarti penundaan, suatu penundaan yang di dalam dan pada dirinya sendiri terpikul yang tak berarti, meski mengejawantah kebesaran hati bahwa si gelandangan masih mungkin lolos dari tuduhan nyata yang mengikuti. Mengamati persoalan itu dari sudut pandang si polisi, ia sendiri mewakili hukum, Kebaikan yang disetujui oleh semua dan oleh karenanya wajib di wajah si pelanggar, orang yang tidak mengakui penghakiman masuk akal oleh semua ini—dengan kata lain, si Jahat. Ya, si polisi mewakili perintah Kebaikan, tapi dalam jenak yang disebutkan ini ia tunadaya, dan dalam diri saya, saat, dipermalukan, saya menyaksikan perlombaan tidak manusiawi ini antara meter dan sentimeter, terjadi yang perhatian saya mendadak jadi pisau cukur yang tajam, dan perhatian setajam pisau cukur ini menyebabkan jenak itu mandek. Jenak itu berhenti persis ketika mereka memperhatikan satu sama lain: si polisi yang baik merasa si gelandangan jahat sedang kencing di wilayah terlarang, dan si gelandangan jahat melihat bahwa, pada kemalangannya sendiri, si polisi baik telah memergoki apa yang sedang ia lakukan. Seluruhnya ada jarak sepuluh meter di antara mereka, si polisi telah menarik pentungan, dan sebelum ia mulai bisa berlari, ia menjumpai suatu perhentian mematikan, oh, ada suatu ketidakterbatasan, tapi dijeda kuat dalam gerak ini, otot-ototnya menegang, siap melompat, karena untuk beberapa saat, berkilas melewatinya: bagaimana jika ia sungguh melompat menyeberangi sepuluh meter itu, seraya di sisi lain, sekalipun dalam perlindungan dari sepuluh meter tersebut, si gelandangan terpukul dan menggigil dalam ketakberdayaan berlipat. Di sini perhatian saya mandek, dan di sini masih bertahan hingga hari ini saat saya memikirkan gambaran itu, jenak itu ketika polisi yang dibuat marah, mengayunkan pentungan, mulai berlari menyusul si gelandangan, yakni, jenak ketika Kebaikan berwajib mulai berlari ke arah si Jahat yang masih muncul lagi dalam samaran seorang gelandangan, lagi pula, tidak sungguh ke arah si Jahat, tapi, tersebab kesadaran dan niatan dari tindakan ini, ke arah Kejahatan itu sendiri, dan dalam cara ini, dalam tablo yang beku ini saya melihat secara terus-menerus, dan saya melihat bahkan hari ini, seorang yang tergesa pada peron jauh di sana, pijakan gegasnya membawanya maju meter demi meter, dan, di sisi kami, saya melihat sosok yang berdosa, mengerang, gemetar, mati kutu, nyaris lumpuh karena dera, karena siapa yang tahu berapa banyak tetes kencing yang tersisa di tubuhnya, merangsek senti demi senti—ya, saya melihat dalam perlombaan Kebaikan ini
semua tersebab sepuluh meter
tidak akan pernah menangkap si Jahat, karena sepuluh meter itu tidak pernah bisa dijembatani, dan bahkan walau si polisi ini mungkin mencekal si gelandangan ini saat kereta bergemuruh memasuki stasiun, dari pandangan saya sepuluh meter itu abadi dan tak tertaklukkan, karena perhatian saya sendiri hanya memahami Kebaikan tidak akan pernah menangkap Kejahatan yang tercambuk, karena antara Kebaikan dan Kejahatan tidak ada harapan, tidak ada apa pun itu.
Kereta yang saya tumpangi membawa saya ke arah Ruhleben, dan saya tidak bisa menghalau gemetar dan cambukan itu dari kepala, dan tiba-tiba, seterang kilat, pertanyaan berkelebat menembus benak: gelandangan ini dan semua sampah masyarakat lain, kapankah akhirnya mereka akan memberontak—dan seperti apakah kebangkitan ini tampaknya. Barangkali akan jadi berdarah, barangkali akan jadi tanpa ampun, barangkali sama sekali tidak menyenangkan, bak ketika seorang manusia melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap yang lain—lantas saya menjauhkan pikiran itu, karena saya berkata tidak, pemberontakan yang saya sedang pikirkan akan berbeda, karena pemberontakan itu akan berhubungan dengan seluruhnya.
Bapak dan Ibu sekalian, setiap pemberontakan itu berhubungan dengan seluruhnya, dan kini selagi saya berdiri di hadapan kalian, dan jejak kaki saya tersebut di kamar menjulang di rumah mulai melambat, sekali lagi bahwa perjalanan Berlin satu kali pada kereta U-Bahn menuju Ruhleben berkelebat dalam diri saya. Satu stasiun benderang bergulir menyusul yang lain, saya tidak turun di mana pun, sejak waktu saya sedang mengendarai U-Bahn tersebut menembus lorong, karena tidak ada pemberhentian tempat saya bisa turun, saya hanya menonton stasiun itu bergulir, dan merasakan bahwa saya telah memikirkan tentang apa saja, dan telah mengatakan segalanya tentang apa yang saya pikirkan tentang pemberontakan, tentang martabat manusia, tentang malaikat, dan ya, bisa jadi tentang segalanya—bahkan harapan. (© THE NOBEL FOUNDATION 2025)
(Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Ottilie Mulzet dan dialih-bahasakan ke Bahasa Indonesia oleh Rudiana Ade Ginanjar. Sumber: https://www.nobelprize.org, diakses pada 08 Desember 2025.)
[1] Sifat pemakan bangkai.
[2] Jenis manusia purba. Terampil, dengan sejenis kemampuan membuat perkakas dari batu.
[3] Jenis manusia purba. Fosilnya ditemukan pertama kali di Jawa, 1891.
[4] Lukisan Leonardo da Vinci yang berupa mural. Dibuat pada masa sekitar 1495-1498, mengenai adegan Perjamuan Terakhir.
[5] Seorang komponis dan organis Jerman. Bach (1685-1750) bergaya klasik dan religius serta berkiprah pada Zaman Barok.
[6] Ibu kota Jerman. Terletak di sisi timur laut negara itu.
[7] Untergrundbahn (Underground railways); jalur kereta api bawah tanah yang umum di Jerman.
[8] Sebuah stasiun U-Bahn di Berlin.
[9] Suatu daerah di kota Berlin.
Comments
Post a Comment