Posts

MERESAPI KEHIDUPAN SEHARI-HARI (Ulasan Buku)

Image
  Oleh: Rudiana Ade Ginanjar   SEBAGAI SEBUAH PUISI, buku Hujan Bulan Juni karya penyair kenamaan Sapardi Djoko Damono menunjukkan cara seorang penyair dalam menyikapi kehidupan sehari-hari. Bahasa keseharian bagi setiap penyair adalah juga pertanda dan sumber pemikiran. Seperti ritus dan tradisi, detak waktu tidak lantas menjadi membosankan dan terasa usang. Penyair adalah orang yang bisa membuat perbedaan. Ketika saat-saat siang yang hibuk dan tenggelam dalam kerja, penyair mendedahkan madah untuk merayakan bahasa hidup tersebut. Mereka tidak hidup semata untuk menyendiri, sebagai seorang pertapa, melainkan memberi dimensi pemahaman terhadap kejadian-kejadian. Ketika beberapa dari rekan sesama penyair memilih untuk terjun dalam bahasa kritik dan perlawanan, Sapardi Djoko Damono menawarkan cinta dan kearifan. Puisi menjadi bahan pertalian antara jiwa sang penyair dengan respon, empati, dan afeksinya terhadap pengalaman. Tak dipungkiri, diri seorang penyair juga bisa menjelm...

MIMPI YANG SERING TERULANG (Robert Frost)

  Dia tidak cukup mengatakan kegelapan   Demi cemara tua yang terus Selalu menguji kait jendela   Dari kamar tempat mereka lelap.   Tangan-tangan tak letih walau tak berguna   Yang bersama tiap lalu sia-sia Membuat pohon raksasa tampak seakan seekor burung mungil   Di hadapan rahasia kaca!   Tak pernah masuk ke dalam kamar itu,   Dan hanya satu dari keduanya Cemas oleh mimpi yang sering terulang   Atas kehendak pohon itu.       Judul asli, “The Oft-Repeated Dream” karya Robert Frost. Terangkum dalam antologi Mountain Interval (1916). Diterjemahkan oleh Rudiana Ade Ginanjar . Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang.

PENYAIR BERANJAK TUA (Pablo Neruda)

  Ia memberiku lengannya seperti sebatang pohon tua yang menjulurkan cabang dahannya, tak berdaun dan tiada berbuah. Tangan nya yang tak melipat, selagi menulis, serat dan anyaman dari sebuah nasib, sekarang bersinar dengan lurikan gurat rambut: hari dan bulan dan tahun. Kala mencorat-coret kegersangannya pada wajahnya, membangkang dan kurus, seakan-akan membagi segenap garis dan tanda kelahirannya, setakat, sedikit demi sedikit, udara akan memekikkan apa yang ia lihat dan menegakkannya di sana.   Batas memanjang tempat kedalaman berada, bab yang padat selama tahun-tahun wajahnya, perlambang yang bersungut-sungut, dan fabel samar-samar, tanda bintang— apa pun yang sirene itu lupa dalam tua pengasingan jiwa, atau menetes dari langit dan gemintang, dicetak pada wajahnya. Kuno dan bardic , [1] penanya tiada pernah terpaku di atas halaman bandel sungai yang meluap sepanjang hidup kita atau dewa tak bernama yang merawat sajaknya. Sekarang pada tulang pipinya segenap dari  mis...

CAHAYA DAN BENANG: Bagian 2 (Han Kang)

...  Dengan membaca kalimat-kalimat ini, saya mengetahui seterang kilat jalan mana novel itu harus lalui. Dan bahwa dua pertanyaan saya harus sebaliknya.   Can the past help the present? Can the dead save the living?   (Bisakah masa silam membantu hari ini? Bisakah yang mati menyelamatkan yang hidup?)   Lantas, saat saya sedang menulis apa yang akan menjadi Tindak Manusiawi (Human Acts) , saya tergerak pada saat tertentu yang masa silam sungguh membantu hari ini, dan yang kematian tengah menyelamatkan yang hidup. Saya akan mengunjungi kembali pekuburan itu dari waktu ke waktu, dan entah bagaimana cuacanya selalu terang. Saya akan menutup sepasang mata, dan sinar jingga mentari akan menyaput pelupuk mata. Saya merasakannya sebagai cahayanya hidup itu sendiri. Saya merasakan cahaya dan udara membungkus dalam kehangatan yang tak terperi. Pertanyaan yang masih bersama saya lama seusai melihat buku foto itu yakni: seberapa manusiawi kekerasan ini? Dan se...

CAHAYA DAN BENANG: Bagian 1 (Han Kang)

  JANUARI TERAKHIR, SELAGI memilah sepanjang kamar gudang saya menjelang suatu perpindahan yang tidak lama lagi, saya kebetulan menemukan sebuah kotak sepatu lama. Saya membuka kotak itu untuk menemu beberapa catatan harian sejak dari masa kanak. Di antara onggokan jurnal, terdapat selembar pamflet, kata-kata “Kitab Sajak” (A Book of Poems) tertulis dengan pensil melintang di mukanya. Buku kecil tersebut tipis: lima lembar kertas A5 kasar terlipat separuh dan dijepit dengan pengokot. Saya telah menambah dua garis berliku di bawah judul itu, satu garis terus naik dalam enam tingkat dari kirinya, yang lain terus menurun dalam tujuh tingkat ke kanannya. Adakah itu sejenis gambaran sampul? Atau hanya sebuah coretan? Tahunnya—1979—dan nama saya tertulis di belakang buku saku ( chapbook ) [1] itu, bersama seluruh delapan sajak yang digoreskan pada lembaran dalam dengan kerapian yang sama, ditulis tangan dengan pensil sebagaimana pada bagian sampul depan dan belakang. Delapan tanggal be...

KISAH PARA HERO

Oleh: Rudiana Ade Ginanjar     BERBEDA DENGAN LELAKI lincah bernama Hercule Poirot, tokoh penyidik yang lain yang juga berasal dari pengarang sama merupakan seorang nenek berusia uzur. Di lain cerita, seri komik yang hingga kini masih meraja, tokoh detektifnya merupakan seorang “bocah”. Namun Conan Edogawa, si bocah itu, sesungguhnya adalah pria remaja sekolah menengah yang teracuni. Lebih mudah bagi kita mencirikan sosok sang lakon dengan kegemilangan olah kecerdasan, ketimbang hal-hal sederhana yang gampang hilang. Saya berbicara tentang seorang lakon dari cerita kriminal. Di banyak tema,  cerita bergenre misteri ini tidak kalah mengundang minat pembaca. Segala sesuatunya menarik ketika kita bernostalgia dengan persepsi dasar dalam hidup: kebaikan lawan kebatilan. Bahwa hanya dalam garis tegak ajek tersebutlah kita bisa mendapati kenikmatan untuk sejenak kembali meraih keyakinan akan kebenaran. Tahun-tahun kegelisahan telah turut meratapkan kita akan nasib dan tujuan. ...