Posts

KISAH PARA HERO

Oleh: Rudiana Ade Ginanjar     BERBEDA DENGAN LELAKI lincah bernama Hercule Poirot, tokoh penyidik yang lain yang juga berasal dari pengarang sama merupakan seorang nenek berusia uzur. Di lain cerita, seri komik yang hingga kini masih meraja, tokoh detektifnya merupakan seorang “bocah”. Namun Conan Edogawa, si bocah itu, sesungguhnya adalah pria remaja sekolah menengah yang teracuni. Lebih mudah bagi kita mencirikan sosok sang lakon dengan kegemilangan olah kecerdasan, ketimbang hal-hal sederhana yang gampang hilang. Saya berbicara tentang seorang lakon dari cerita kriminal. Di banyak tema,  cerita bergenre misteri ini tidak kalah mengundang minat pembaca. Segala sesuatunya menarik ketika kita bernostalgia dengan persepsi dasar dalam hidup: kebaikan lawan kebatilan. Bahwa hanya dalam garis tegak ajek tersebutlah kita bisa mendapati kenikmatan untuk sejenak kembali meraih keyakinan akan kebenaran. Tahun-tahun kegelisahan telah turut meratapkan kita akan nasib dan tujuan. ...

KETIKA TAHUN BARU TIBA

Sajak Rudiana Ade Ginanjar   Dari wajah tahun, kukirim senyap. Dari wajah tahun, merana. Sebuah pelayaran tak kunjung menemu pulau tambatan.   Hari-hari, sebuah cerita tanpa koma.   Di hari perayaan, perkampungan menjelma             muara hujan. Di hari pembukaan, malam menutup tirai.   Kehausan menjelma sekali lagi             warna kuning gurun. Sesuatu yang lebih lembut, telah menguasa.   Burung-burung beranjak dan kehilangan suar; jejak-jejak dari dataran tanpa tanda.   Kukenakan lagu yang biasa kukenakan bila seorang tak dikenal muncul; dalam warna baru, angin berlalu sepanjang garis pedusunan.   Bagai danau beringus, seluruh siang berjarak.   2024

PAGI DI RAUT MEI

Sajak Rudiana Ade Ginanjar     Hanya wajah sederhana, hari ini setapak jauh sekali lagi             tiba. Wajah sederhana adalah wajahku; waktu-waktu beranjak pergi, semua melintas.   Bahkan dalam hari-hari biasa, tetap saja belum tiba             saat kembali. Anak-anak waktu berbaur, ke dalam isyarat purba.   2024

FILM

Sajak Rudiana Ade Ginanjar  Film     Dan terbukalah namamu. Seakan malam melebarkan sepasang             sayap. Sebuah citra, yang dingin lagi berbiak.   Hanya kunang-kunang, mungkin dengung lebah. Taman akan lebih ceria sepanjang musim dengan tanda terima dari cap-cap mentari.   Kusimak judul, sebuah bilangan mencatat kenangan.   Kutilik sekali saja, warna-warna akan cemas, waktu beringsut kembali.   2024

JANUARI UTAMA (Octavio Paz)

  Pintu-pintu tahun membuka seperti pintu-pintu bahasa menuju yang tak terketahui. Semalam kau berkata padaku: esok kita mesti menerka pertanda, merancang pandang, mereka-reka rencana pada halaman ganda dari hari dan kertas. Esok, kita mesti menemu, sekali lagi, kenyataan dunia ini.   Aku terlambat membuka mata. Dalam sedetik dari sedetik aku rasakan apa yang suku Aztek rasakan, di puncak semenanjung, berbaring menunggu waktu yang tak pasti kembalinya melalui celah-celah cakrawala.   Tapi tidak, tahun telah kembali. Ia memenuhi seluruh ruang hingga tatapanku hampir menyentuhnya. Waktu, dengan tanpa bantuan kita, telah menempatkan dengan saksama tatanan yang sama seperti kemarin rumah-rumah di jalanan lengang, salju pada rumah-rumah, kebisuan pada salju.   Kau di sampingku, masih lelap.    Hari telah menemukanmu tapi kau belum mau menerima menjadi temuan hari.                 —M...

SAJAK PENGHUJUNG TAHUN: Pablo Neruda, "Penyair Angkasa"

      Apakah ia datang pada, kalian Gidean , [1] Rilkean , [2] juru niaga cendekia, jalan samar, keliru pawang sihir keberadaan kita, kaum surealis kupu-kupu yang menyala-nyala pada daging busuk, diri terkini mayat dataran luas, tempayak hijau dalam keju dari Ibu kota—apa yang telah kau perbuat di kerajaan sekarat, dalam wawasan atas kemanusiawian tak bernama dan mufakat diam mereka menjengkelkan, kepala-kepala tenggelam dalam sisa-sisa, yang tergaruk sari pati hidup terinjak-injak?   Terbang dan meloloskan diri: tiada lagi. Kau jajakan kulit tumpuk timbunan sampah, menyelidik demi sebuah surga rambut, tumbuhan cabar hati, kupasan kuku jari: “Indah murni”, “sihir”— segala yang piranti malang si pengecut memalingkan pandangan mereka, menjeling curiga,   melepas bola mata lembut mereka, mengakar dalam sebuah pinggan pembilasan dan sampah terempas padamu di sana dari sang tuan, membuta pada yang berlalu yang bekerja dalam batu, menyangkal seluruh perselisihan, ta...

NO CARNIVAL THIS AFTERNOON

Sajak Rudiana Ade Ginanjar Tidak juga terbangun, angin terus mengirim hening.   Jauh, sudah mengembara sebuah cerita.   Tangan-tangan dari kejauhan itu seakan sebuah panggilan. Tiap pertanyaan lumpuh. Pendaratan terus gaduh, cahaya menata diri.   Cangkang-cangkang dari masa silam mulai bermunculan di pantai kemudian.   Di sini waktu yang sunyi terus ditabuh. Dentumnya orang kambuh, nadanya gemerlap mata riang. Sedang ruang-ruang masih menyangsikanku.   2024